KESUSASTRAAN INDONESIA I

DAFTAR ISI                                                               

BAB I              : WAWASAN BAHASA INDONESIA

  1. Asal Usul Bahasa Indonesia
  2. Rumpun Bahasa Indonesia
  3. Fungsi dan Kedudukan Bahasa indonesia
  4. Ciri Bahasa Indonesia Yang Baku
  5. Penulisan Ejaan Yang Disempurnakan

BAB II             :           MEMAHAMI KESUSASTRAAN INDONESIA

  1. Pengertian Kesusastraan
  2. Sejarah Sastra Indonesia
  3. Pembagian Kesusastraan

BAB III            : KLASIFIKASI SASTRA INDONESIA

  1. Kesusastraan Lama dan Baru
  2. Sastra Melayu dan Sastra Indonesia
  3. Pengaruh-Pengaruh Kesusastraan
  4. Bentuk Karya Sastra
  5. Zaman Peralihan

BAB IV           : PERIODESASI SASTRA DAN ANGKATAN

  1. Perbedaan Periodesasi dan Angkatan
  2. Angkatan Sastra Indonesia
    1. Angkatan 20
    2. Angkatan 30
    3. Angkatan 45
    4. Angkatan 66

BAB VIII         : UNSUR KARYA SASTRA

  1. Unsur Intrinsik
  2. Unsur Ekstrinsik

BAB VII          : PROSA LAMA

  1. Dongeng
  2. Hikayat
  3. Epos – Wiracerita

BAB V             : PUISI LAMA

  1. Bidal
  2. Pantun
  3. Talibun
  4. Gurindam
  5. Syair
  6. Seloka

BAB VI           : PUISI BARU

  1. Bentuk Puisi Baru
  2. Soneta

BAB VII          : PELANGI PUISI INDONESIA

BAB IV

PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

 

A.    Asal Usul Bahasa

Berbagai hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para cendekiawan, hingga sekarang belum mencapai kesepakatan tunggal yaitu asal bahasa. Beberapa teori tradisional tentang asal-usul bahasa, ada yang lucu,  ada yang aneh, ada yang melibatkan Tuhan, ada yang melibatkan binatang, dan ada yang berbau ilmiah.

Berdasarkan penelitian antropologi bahwa, kebanyakan kebudayaan primitif meyakini keterlibatan Tuhan, Dewa dalam permulaan sejarah bahasa. Tuhan telah mengajar Nabi Adam  menyebutkan nama-nama benda,  di surga Tuhan berdialoq dengan Nabi adam berbahasa Yunani. Berbeda dengan seorang filosofis dari Swedia, di surga Tuhan berbicara dengan bahasa Swedia, Nabi Adam berbahasa Denmark, sedangkan naga berbahasa Perancis. Lain halnya dengan seorang Belanda Goropius Becanus berteori bahwa, bahasa di surga adalah bahasa Belanda. Kaisar Cina Tien tzu, anak Tuhan, katanya mengajarkan bahasa pertama pada manusia. Versi Cina yang lain, ada seekor kura-kura diutus Tuhan membawa bahasa ke orang-orang Cina.

Cerita dari Mesir lain lagi, pada abad ke-17 SM raja Mesir, Psammetichus ingin mengadakan penyelidikan tentang bahasa pertama. Menurut sang Raja, kalau bayi dibiarkan ia akan tumbuh berbicara bahasa asal. Untuk penyelidikan dimaksud diambilnyalah dua bayi dari keluarga biasa, dan satu bayi diserahkannya kepada seorang pengabdi dalem keraton, bayi tersebut  dirawat secara normal, diajak berbicara,  diberi pendidikan, diajak bergurau, dan bermain-main. Sedangkan bayi yang satu lagi, diserahkan kepada  penggembala untuk dirawatnya. Penggembala tersebut dilarang berbicara sepatah kata pun kepada bayi tersebut, setiap hari diajak mengembalakan kambing, diberi makan, minum, mandi, tidur, tetapi sama sekali penggembala mengeluarkan kata-kata apalagi berbicara, karena jika ketahuan berbicara atau mengucapkan kata-kata kepada bayi tersebut, taruhannya adalah kepala dipenggal oleh sang Raja. Setelah bayi berusia dua tahun, tiba-tiba bayi tersebut secara spontan menyambut di penggembala dengan kata Becos !, segera si penggembala tadi menghadap Sri Baginda Raja Psammetichus dan diceritakannya tentang bayi itu. Sang Raja terpernjat mendengar kejadian tiu, segera memanggil seluruh penasehatnya, kemudian menelitinya dan berkonsultasi tentang kejadian tersebut. Menurut mereka, dalam bahasa Phrygia, becos berarti roti, inilah bahasa pertama. Cerita ini diturunkan kepada orang-orang Mesir kuno, hingga menurut mereka bahasa Mesirlah yang pertama.

Pada abad ke-18, spekulasi asal usul bahasa secara mistik, relegius, tahayyul berpindah ke wawasan baru yang disebut organic phase. Johann Gottfried Von Herder mengemukakan pendapatnya bahwa, Bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba-coba berpikir, Bahasa adalah akibat hentakan yang secara insting. Sebagaimana Max Muller dalam nativistic theory menjelaskan, bahwa manusia memiliki kemampuan insting yang istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran atau bahasa bagi setiap kesan. Teori lain yang disebut Gesture theory mengatakan bahwa, isyarat mendahului ujaran. Menurut teori ini, bahasa lahir dari isyarat-isyarat yang bermakna, isyarat dapat dipergunakan dalam berkomunikasi. Dari sinilah bahasa  berkembang seiring dengan perkembangan komunikasi.

Pendekatan tradisional mulai ditinggalkan beralih pada pendekatan modern dalam upaya menyikapi asal-usul bahasa. Pada hakikatnya, manusia tercipta dengan perlengkapan fisik yang sangat sempurna, hingga memungkinkan terlahirnya ujaran atau kemampuan berbahasa. Fred West menyatakan bahwa: “Speech, as language, is the result of man’s ability to see phenomena symbolically and of the necessity to express his symbols.”  Ujaran, seperti halnya bahasa, adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk mengungkapkan simbol-simbol itu. Dengan demikian para ahli antropologi sepakat menyimpulkan bahwa manusia dan bahasa  berkembang bersama.

Manusia diberi kelengkapan oleh Tuhan berupa perasaan dan pikiran. Perasaan dan pikiran, mulai bayi secara bertahap dan pasti berkembang sesuai dengan lingkungan dan masyarakatnya, bayi lahir mulai menangis, tangisan pertama ini adalah bentuk bahasa yang paling sederhana, semua bayi di mana-mana tangisnya sama, setelah berkembang mulai mendengar segala bunyi di sekitarnya, mulai mencoba menirukannya dengan kekuatan perasaan dan pikiran yang masih sangat mudah. Pada akhirnya, dengan perasaan dan pikirannya yang terbatas, bayi tersebut benar-benar dapat menirukan bahasa dengan sempurna.

Hubungan bahasa dengan manusia sangat erat, sebab tumbuh dan berkembangnya bahasa senantiasa bersama dengan berkembang dan meningkatnya kegiatan, peradaban kebudayan manusia, dan berbahasa. Oleh karena itu, asal-usul dan perkembangan bahasa seiring dengan adanya manusia. tanpa manusia, bahasa manusia tidak akan pernah ada, sebab bahasa adalah pernyataan pikiran dan perasaan manusia. Bahasa adalah alat komunikasi manusia atau antaranggota masyarakat berupa lambang bunyi ujaran, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Dengan demikian, ada dan berkembangnya manusia berarti bahasa itu ikut ada.

Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai empat fungsi khusus, yaitu:

  1. Fungsi Praktis, yaitu bahasa sebagai alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari.
  2. Fungsi Artistik, yaitu bahasa yang digunakan sebagai alat untuk pengungkapan rasa keindahan, misalnya: puisi dan prosa.
  3. Fungsi Ilmiah, yaitu bahasa sebagai untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
  4. Fungsi Filologis, yaitu bahasa digunakan sebagai alat untuk mempelajari naskah-naskah kuno dengan tujuan menyelidiki latar belakang sejarah manusia, budaya, ataupun perkembangan lainnya.

Keterampilan berbahasa (language skills) dalam kurikulum di sekolah biasanya mencakup empat segi, yaitu:

  1. Keterampilan menyimak / mendengarkan (listening skills)
  2. Keterampilan berbicara (speaking skills)
  3. Keterampilan membaca (reading skills)
  4. Keterampilan menulis (writing skills)

Setiap ketempilan tersebut erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka rona. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya melalui hubungan urutan yang teratur: mula-mula, pada masa kecil, kita belajar menyimak/mendengarkan bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara dipelajari sebelum memasuki sekolah, sedangkan membaca dan menulis dipelajari di sekolah. Keempat keterampilan berbahasa tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan, yang sangat erat hubungannya dalam proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya.

Seorang guru bahasa haruslah dapat membantu dan membimbing siswa untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan berbahasa, dengan cara:

  1. Guru mengenalkan aksara, simbol-simbol, dan  tanda-tanda baca.
  2. Guru membimbing tentang adanya korelasi simbol, aksara, tanda-tanda baca, dan benda-benda.
  3. Guru membantu memperkara kosa kata, dengan jalan:
  4. Guru membantu siswa untuk memahami makna struktur-struktur kata dan kalimat.
  5. Guru memperkenalkan ungkapan, dan membantu memberikan pengertian kias.
  6. Guru memastikan dalam keterampilan-keterampilan pemahaman (comprehension skills) kepada siswa, baik bentuk kalimat, paragraf, maupun karangan utuh.
  1. Memperkenalkan sinonim kata, antonim, dan frase.
  2. Memperkenalkan imbuhan/ afiks: prefiks, sufiks, konfiks/simulfiks, dan infiks.
  3. Membantu merangkai kalimat.

Untuk memperluas pemahaman keterampilan berbahasa, ada beberapa tataran bahasa yang perlu dipelajari, antara lain:

  1. Fonologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa.
  2. Morfologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk atau bentuk-bentuk kata.
  3. Semantik, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna kata.
  4. Sintaksis, yaitu ilmu yang mempelajari tentang struktur kalimat.
  5. Paragraf, yaitu karangan yang terdiri dari satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.

Gambar: Tingkatan Tataran Bahasa

B.     Rumpun Bahasa Indonesia       

Sekelompok bahasa dikatakan serumpun apabila menunjukkan adanya garis kesamaan asal-usul dan mempunyai jalan bahasa yang sama.

Berikut ini silsilah keluarga bahasa Indonesia:

Silsilah Keluarga Bahasa Indonesia

Menurut Wlhelm Schmidt, rumpun bahasa Austria berkembang menjadi dua rumpun, yaitu:

  1. Rumpun Bahasa Austro-Asia yaitu bahasa-bahasa yang terdapat di daratan Asia

Tenggara, meliputi:

  1. Bahasa Mon Khmer di India Belakang
  2. Bahasa Munda dan Santali di India Muka
  3. Bahasa Semang dan Sakai di Malaka
  1. Rumpun Bahasa Austronesia mempunyai wilayah penyebaran yang sangat luas, batas

Wilayahnya meliputi:

  1. Sebelah barat   : Pulau Madagaskar
  2. Sebelah Timur : Pulau Paas atau Paskah (dekat pantai barat Amerika serikat)
  3. Sebelah Utara  : Pulau Formula
  4. Sebelah Selatan: Pulau Selandia Baru

Rumpun Bahasa Austronesia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu:

  1. Golongan bahasa Austronesia bagian timur, disebut bahasa-bahasa Oceania, meliputi:
  2. Golongan bahasa Austronesia bagian barat, disebut bahasa-bahasa Nusantara.
  1. Bahasa-bahasa Polinesia, terdiri dari bahasa Moari, Hawai, dan Tahiti.
  2. Bahasa-bahasa Melanesia, meliputi: Bahasa News Kaledonia,  Hibrit, Fiji, Solomon, danSanta Cruz.
  3. Bahasa-bahasa Mikronesia, meliputi: bahasa di kepulauan Gilbert, Marshall, di kepulauan Carolina.

Golongan ini dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu:

  1. Bagian barat, meliputi:

1)      Kelompok bahasa Formusa, yaitu bahasa Tavorlang dan Singkang.

2)      Kelompok bahasa Filipina, yaitu bahasa Tagalog, Bisaya, dan Sangir Talaud

3)      Kelompok bahasa Sumatera, yaitu bahasa Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, dan Nias.

4)      Kelompok bahasa Jawa, yaitu bahasa Jawa, Sunda, dan Madura.

5)      Kelompok bahasa Dayak, yaitu bahasa Ngaju dan Kayan Busang

6)      Kelompok bahasa Bali-sasak, yaitu bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa

7)      Kelompok bahasa Sulawesi, yaitu bahasa Bugis, Makasar, Gorontalo, dan Buton

8)      Kelompok bahasa Minahasa, yaitu bahasa Tombulu, Tonsea, dan Tondano.

9)      Bahasa malagasi di Madagaskar

10)  Bahasa Cham di Indocina selatan

  1. Bagian timur, meliputi: bahasa Sikka, bahasa Tetun, bahsa Solor, dan bahasa Roti.

Bahasa yang tidak termasuk rumpun bahasa Austronesia adalah bahasa-bahasa di Irian, bahasa Halmahera Utara, bahasa Ternate, dan bahasa Tidore.

C.    Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Perkembangan permulaan sejarah bahasa Indonesia berasal dari silsilah keluarga bahasa Austria dan menjadi rumpun bahasa Austronesia, bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu Riau, yang termasuk golongan bahasa Nusantara. Dalam perkembangannya, Tonggak yang paling penting bagi perjalanan bahasa Indonesia selanjutnya adalah diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Para pemuda yang tergabung dalam Jong Jawa, Jong Sumatera, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia mengadakan kongres di Jakarta, bertujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme, yang selama itu masih berjiwa kedaerahan. Semangat nasionalisme tersebut telah dinyatakan dalam sebuah ikrar sejati, yaitu Sumpah Pemuda yang berbunyi sebagai berikut:

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda tersebut telah melahirkan kesepakatan sejati yaitu rasa nasionalisme, rasa kebangsaan, dan digunakannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus alat kominukasi nasional.

Kedudukan bahasa Indonesia dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi/negara.

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berdasarkan adanya ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang menyatakan bahwa, kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional, ada empat macam fungsi, antara lain, sebagai:

a. Lambang kebanggaan nasional.

Pada dasarnya bahasa Indonesia dapat mencerminkan nilai-nilai budaya tinggi yang dimiliki oleh masyarakatnya. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus merasa bangga akan hal ini. Oleh sebab itu, kita wajib melestarikan, mengembangkan, dan membina penggunaan bahasa Indonesia.

b. Lambang identitas nasional.

Bahasa Indonesia sebagai lambang identitas nasional berarti bahasa Indonesia mempunyai ciri-ciri tersendiri dibandingkan dengan bahasa lain. Ciri-ciri yang terdapat dalam bahasa akan tetap ada apabila pemakai bahasa Indonesia, membina dan mengembangkannya sedemikian rupa, sehingga tidak mudah dipengaruhi ciri-ciri bahasa bahasa lain.

c.   Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan

bahasanya.

Dalam hal ini, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku bangsa yang terdapat di Indonesia. Berbagai macam suku bangsa ini mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meninggalkan ciri-ciri kesukuannya. Dengan bahasa nasional, kita dapat meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan daerah. Hal tersebut telah ditegaskan dengan adanya ikrar Sumpah Pemuda.

d.   Alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

Komunikasi antaranggota masyarakat yang berbeda daerah dan budaya akan berjalan dengan lancar apabila kita menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesiaakan memudahkan masyarakatnya untuk saling mengenal, dan mengetahui kebudayaan daerah lain.

Berbeda dengan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi/negara, dasarnya yang digunakan sebagaimana Undang-undang Dasar 1945, bab XV, pasal 36 yang berbunyi, Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi/negara, mempunyai empat macam fungsi, yaitu sebagai:

a.   Bahasa resmi kenegaraan.

Pengertian bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan apabila bahasa Indonesia dipakai dalam upacara, peristiwa, ataupun kegiatan kenegaraan, baik bersifat lisan maupun dalam bentuk tulisan. Dokumen-dokumen, keputusan-keputusan, serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan harus ditulis dan diucapkan dalam bahasa Indonesia. Bahkan, komunikasi antara pemerintah dan rakyat pun mempergunakan bahasa Indonesia.

b.   Bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi digunakan sebagai pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Hanya di daerah-daerah pelosok tertentu seperti Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, dan Minahasa, bahasa-bahasa daerah tersebut masih dapat dipakai sebagai bahasa pengantar, khususnya sampai pada siswa kelas tiga sekolah dasar.

  1. c.       Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan  pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam masyarakat yang mengenal bermacam-macam bahasa akan menyangkut masalah nasional. Oleh sebab itu, timbul kecenderungan dalam masyarakat untuk menggunakan bahasa nasional. Segi positif dalam menggunakan bahasa nasional yaitu menghilangkan jarak sosial, karena bahasa Indonesia tidak mengenal tingakt-tingkat bahasa seperti dalam bahasa Jawa. Dengan demikian, memudahkan komunikasi di antara masyarakat. Kemudahan komunikasi ini akan membantu pemerintah dalam usaha membina, meningkatkan, dan meratakan pembangunan nasional.

  1. d.    Alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, dan teknologi modern.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu alat untuk membina dan mengembangkan kebudayaan nasional, sehingga memiliki ciri dan identitas yang berbeda dengan kebudayaan daerah. Bahasa Indonesia juga dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan nilai-nilai sosial budaya nasional kita. Kecuali itu, bahasa Indonesia juga berfungsi sebagai bahasa pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk kepentingan nasional. Penggunaan bahasa Indonesia memudahkan kita dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, dan memudahkan keikutsertaan kita dalam usaha mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan demikian, kita tidak perlu menggantungkan diri pada bahasa-bahasa asing.

Dalam upaya membina dan mengembangkan bahasa Indonesia, pembinaan dan pengembangan bahasa  terus dilakukan, baik melalui kongres-kongres bahasa Indonesia maupun penulisan ejaan sebagai konsekuensi perkembangan bahasa. Berikut ini perkembangan Ejaan yang pernah berlaku hingga sekarang.

  1. Ejaan Van Ophuysen, Ejaan ini merupakan realisasi dari surat ketetapan Kerajaan Belanda  pada tahun 1901, yang isinya menghendaki supaya segera disusun ejaan untuk bahasa Melayu.
  2. Ejaan Republik Indonesia atau Ejaan Soewandi, Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1947 yang isinya beberapa perubahan dari Ejaan Van Ophuysen.
  3. Konsep Ejaan Pembaharuan 1957, Konsep Ejaan Melindo 1959, dan Konsep Ejaan LBK 1968. Ketiga ejaan tersebut sudah disusun rapi, tetapi secara resmi tidak dapat disahkan, karena kurang praktis dan alasan politis.
  4. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), peresmiannya dilakukan oleh Presiden RI dalam pidatonya di depan sidang DPR pada tanggal 17 Agustus 1972.

D.    Ciri Bahasa Indonesia yang Baku

Bahasa baku perlu memliki sifat Kemantapan Dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap.tetapi ketetapan itu cukup terbuka  untuk perubahan yang bersistem di bidang kosa kata dan peristilahan.

Untuk mencari kemantapan  perlu diusahakan pekerjaan kodifikasi bahasa. Kodifikasi bahasa menyangkut dua aspek yang sangat penting, yaitu (1) bahasa menurut situasi pemakai dan pemakaiannya; (2)  bahasa menurut sturkturnya sebagai suatu sistem komunikasi.

Kodifikasi pertama akan menghasilkan sejumlah ragam bahasa dan gaya bahasa. Perbedaan ragam bahasa dan gaya bahasa, tampak dalam pemakaian bahasa lisan (ujaran) dan bahasa tulisan, masing-masing akan mengembangkan variasi menurut pemakaiannya di dalam pergaulan keluarga dan sahabat dan tampak di dalam hubungan secara formal.

Kodifikasi kedua akan menghasilkan tata bahasa dan kosa kata baku. Pada umumnya yang layak dianggap baku ialah ujaran dan tulisan yang dipakai oleh golongan-golongan masyarakat paling luas pengaruhnya dan paling besar kewibawaannya. Termasu di dalamnya para pejabat negara, para dosen, para guru, warga media massa, alim ulama, dan kaum cendekia. Karena golongan ini dapat disebut kelompok pembina pendapat umum, maka mereka jugalah yang sebaiknya jadi sasaran pembinaan.

Ciri lain bahasa baku yang modern adalah Kecendekiaan. Bahasa Indonesia harus mampu mengungkapkan proses pemikiran yang rumit  di berbagai bidang ilmu, teknologi, dan antarhubungan manusia, tanpa menghilang kodrat dan kepribadiaannya.

Proses pencendekiaan ini sangat penting untuk menampung aspirasi generasi muda yang menuntut taraf kemajuan yang lebih tinggi dan ingin mencari pengalaman hidup sebagai akibat perkenalannya dengan kebudayaan lain. Orang yang ragu-ragu terhadap kemampuan bahasa Indonesia ini akan lari ke bahasa lain. Sebagai bahan perbandingan dapat dajukan sitausi Jepang, yang mampu mempertahankan tata aksaranya (kanji, hiragana, dan katakana) dan tingkat-tingkata bahasanya. Bahasa Jepang dapat menjadi sarana penyalur pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bangsa itu untuk menjadi bangsa yang modern. Berkat usaha penterjemahan secara besar-besaran, orang Jepang leluasa memperoleh inferensi di bidang apapun yang diinginkannya.

Ciri inilah antara lain dapat membuat bahasa Indonesia mampu bertahan terhadap saingan bahasa Inggris di kalangan  orang yang ingin dianggap pelajar dan modern. Karena proses pemikiran yang cendekia bukan berarti monopoli sesuatu bangsa, akan tetapi bahasa Indonesia tetap mengalami proses perkembangan dengan cara menyerap berbagai bahasa, yang prosesnya sesuai dengan aturan dan kaidah ejaan bahasa Indonesia.

Paradoksnya, makin tidak cendekianya bahasa Indonesia seseorang, makin besar hasratnya tidak menggunakan bahasa Indonesia. Menguasai dan menggunakan bahasa asing adalah bentuk kemajuan yang perlu dihargai, tetapi membumihanguskan fungsi bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk kejahatan bahasa yang harus diperangi. Sebagai bangsa Indonesia harus memiliki rasa bangga terhadap bahasanya sendiri, yakni bahasa Indonesia. Tidak semua negara memiliki bahasa. Suatu negara yang merdeka, tetapi bahasa resmi negara atau bahasa yang pertama menggunakan bahasa negara lain. Oleh karena itu, sikap cendekia terhadap bahasa Indonesia sangat penting dimiliki oleh pemakai bahasa dan bangsa Indonesia.

E.     Penulisan Ejaan Yang Disempurnakan

            Ejaan ini merupakan penyempurnaan dari ejaan-ejaan sebelumnya, ejaan ini mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972, dan bertujuan untuk menyeragamkan penulisan bahasa Indonesia menuju ke arah pembakuan atau standardisasi ejaan.

 

Tanda Titik

  1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya    : Ayah pergi ke Surabaya.

Dia adalah ibuku.

Ayah marah.

Dia menulis surat ketika hujan turun.

  1. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.

Misalnya    : A.S. Alfian

Moh. Yamin

M. Afandi

Widodo AS.

  1. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

Misalnya    : Dr.     : Doktor

S.H.   : Sarjana Hukum

Prof.  : Profesor

Sdr.   : Saudara

  1. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. pada  singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.

Misalnya    : a.n.    : atas nama

s.d.    : sampai dengan

dll.     : dan lain-lain

tgl.     : tanggal

Yth.   : yang terhormat

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya    : pukul 1.35.20 ( pukul 1 lewat 35 menit 20 detik )

Pukul 7.34.00 ( pukul 7 lewat 34 menit )

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya    : 1.35.20 jam ( 1 jam 35 menit, 20 detik)

7.34.00 jam ( 7 jam 34 menit )

  1. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya    : Ia lahir pada tahun 1985 di Surabaya.

Lihat halaman 2356 dan seterusnya.

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya    : Desa itu berpenduduk 33.500 orang.

Gempa dan gelombang Tsunami menewaskan 184.000 jiwa.

Sebanyak 2.006 ekor unggas mati mendadak.

  1. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, kepala

Ilustrasi, tabel, dan seterusnya.

Misalnya    : Di Bawah Lindungan Ka’bah

Pengaruh Industrialisasi Terhadap Kehidupan Masyarakat Sekitar

Cadar dan Jilbab

Peranan Pemuda dalam Pembangunan Nasional

  1. Tanda  titik tidak dipakai di belakang almat surat.

Misalnya    : Kepada Yth.

Direktur PT ABADI JAYA

Jalan Banjarmasin 44

Gresik

Kepada Yth.

Bapak  Drs. Alfian Gilang Ahmada, M.Si.

Jalan Banjarmasin 44

Gresik

Tanda Koma

  1. Tanda  koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya    : Adik membeli kertas, pena, dan tinta.

Satu, dua, …. Tiga!

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang didahului oleh kata seperti: tetapi dan melainkan.

Misalnya    : Saya tidak pergi ke Surabaya, melainkan pergi ke Jakarta.

Adik ingin cepat pulang, tetapi hari masih hujan.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seru yang terdapat di awal kalimat.

Misalnya    : Wah, sungguh hebat permainan anak itu!

Aduh, kaki terkilir!

  1. Tanda koma dipakai di antara alamat surat, tempat tanggal pembuatan surat, yang

ditulis berurutan.

Misalnya    : Sdr. Alfian Gilang Ahmada, Jalan Banjarmasin 44, Gresik.

Surabaya, 17 Agustus 2005

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.

Misalnya    : R. Ratujingga, S.H.

Ny. Fathimah, M.Ag.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kutipan langsung dari bagian lain dalam

kalimat.

Misalnya    : Kata ayah, “Saya harus rajin belajar.”

“Saya harus rajin belajar,” kata ayah, “agar lulus ujian.”

Singkatan dan Akronim

  1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti tanda titik.

Misalnya    : Moh. Yasin

M.Sc.             : Master of Science

S.E.               : Sarjana Ekonomi

Bpk.              : Bapak

Kol.               : Kolonel

  1. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan, badan atau organisasi, serta nama

dokumen resmi yang terdiri dari huruf kapital tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya    : DPR              PGRI

GBHN          PT

SMA             KTP

PPL               UKM

  1. Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf kecil diikuti satu tanda titik

Misalnya    : dll.     : dan lain-lain

dsb.    : dan sebagainya

dst.    : dan seterusnya

hlm.   : halaman

sda.    : sama dengan di atas

Yth.   : Yang terhormat

a.n.    : atas nama

s.d.    : sampai dengan

u.b.    : untuk beliau

d.a.    : dengan alamat

  1. Akronim (singkatan yang bisa dilafalkan seperti kata)  yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

Misalnya    : ABRI                        : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

SIM               : Surat Izin Mengemudi

MAN             : Madrasah Aliyah Negeri

SMEA           : Sekolah Menengah Ekonomi Atas

  1. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

Misalnya    : Akabri           : Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Depag            : Departemen Agama

Puskesmas     : Pusat Kesehatan Masyarakat

Tilang            : Bukti Pelanggaran

Rudal                        : Peluru Kendali

Radar                        : Radio Detecting and Ranging

 

Angka dan Bilangan

Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau Latin dan angka Romawi.

Angka Arab                : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Angka Romawi           : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X

L (50), XL (40), LX (60), C (100), D (500), M (1000),

  1. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Misalnya    : Paku Buwono XII

Paku Buwono ke-12

Paku Buwono kedua belas

  1. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara berikut ini:

Misalnya    : tahun 60-an               atau yahun enam puluhan

Uang 50.000-an        atau uang lima puluh ribuan

Lima uang 5.000-an atau lima uang lima ribuan

  1. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan

huruf, kecuali juka beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam  pemerincian dan pemaparan.

Misalnya    : Geovani menonton sepak bola itu sampai tiga kali.

Ibu memesan tiga ratus buah jeruk.

Di antara 100 anggota yang hadir, ada 57 orang memberikan suara setuju

  1. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu susunan kalimat

diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata,tidak

terdapat pada awal kalimat.

Misalnya    : Lima belas orang tewas dalam musibah tanah longsong di Sumatera.

Bukan: 15 orang tewas dalam musibah tanah longsor di Sumatera.

Pak Ahmad mengundang 355 orang tamu.

Bukan: 355 orang tamu diundang Pak Ahmad

Bukan: Tiga ratus lima puluh lima orang tamu diundang Pak Ahmad.

5. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya    : Saya serahkan uang sebesar Rp 1.000,75 (seribu tujuh puluh lima sen)

                          Uang sebesar Rp 50.000,10 (lima puluh ribu sepuluh sen)

 

 

 

 

 

BAB II

MEMAHAMI KESUSASTRAAN INDONESIA

 

  1. A.  Pengertian Kesusastraan

Kesusastraan berasal dari kata susastra. Su dan Sastra, dan kemudian  diberi imbuhan konfiks ke-an. Arti kata Kesusastraan terdiri dari: Su = artinya indah, baik, lebih berfaedah. Sastra = artinya huruf dan buku atau karangan. Jadi Kesusastraan atau sastra  merupakan kumpulan buku-buku, karangan-karangan yang indah bahasa dan isinya.

Kesusastraan sebagai cerminan jiwa, getar sukma pengarang, manifestasinya dapat dilihat dalam bentuk-bentuk prosa dan puisi. Karangan yang bernilai sastra, dapat dilihat bentuk dan isinya. Bentuknya berbeda dengan karangan ilmiah, isinya hanya dapat dirasakan, karena sastra terlahir dari sebuah perasaan yang paling dalam, dan harus didekati dengan menggunakan  perasaan pula. Sesungguhnya kesusastraan merupakan penjelmaan pribadi yang indah luhur dengan bahasa yang indah. Keindahan yang dilahirkan melalaui bahasa, bahasa indah, bahasa seni, bahasa yang benar-benar mewakili perasaan sejati. Dalam buku pelajaran, pengertian  istilah Kesusastraan atau Sastra  adalah hasil karya manusia  yang mempergunakan bahasa sebagai alat pencurahan, baik lisan maupun tulisan, yang dapat menimbulkan  rasa indah (estetis) serta dapat menggetarkan tali jiwa pembaca atau pendengarnya.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa kesusastraan sudah ada sejak manusia itu ada, sebab sebagai alat pergaulan untuk menjelmakan budi nurani, curahan perasaan manusia, seperti suka, duka, benci, amarah, keadilan, kebenaran, kehidupan, kemerdekaan, kegembiraan, keanehan, kepincangan, dan lain-lain.

Hakikat sastra adalah imajinatif dan estetis, artinya kekuatan membentuk gambaran angan, yang diungkapkan dengan cara yang indah. Sedangkan fungsi sastra adalah menyenangkan dan berguna. Menyenangkan (dulce), maksudnya bukan suatu yang menjemukan, bukan pula sesuatu keharusan, melainkan kesayangan yang terkandung dalam sifat itu sendiri. Berguna (utile), berarti bukan memboroskan waktu, akan tetapi sebagai perintang waktu, akan tetapi sebagai sesuatu yang sudah semestinya dan seharusnya mendapat perhatian.

  1. B.  Sejarah Kesusastraan Indonesia

Berbicara tentang lahirnya kesussastraan di Indonesia, sungguh tidak mudah dijawab, karena terbatasnya pengetahuan tentang sejarah itu sendiri, tetapi kalau ditelusuri lewat kepustakaan, tentunya kesusastraan timbul sejak adanya tulisan (Nirleka = zaman belum adanya tulisan), dan beberapa prasasti serta piagam tua di Kutai peninggalan Raja mulawarman sekitar tahun 400, yang terdiri dari 4 buah tangan batu pemujaan yang bertuliskan huruf palawa dalam bahasa Sansekerta, prasasti kerajaan Taruma negara di zaman Purnawarman, dan prasasti di sekitar Palembang dan Jambi, Talang Tuwo, Kota Kapur, dan Kedukan. Terdapatnya Bukit yang ditulis dalam huruf Pallawa yang berbahasa Melayu Kuno, tahun 700. jadi antara tahun 400 – 700 telah ada di Indonesia peninggalan sastra yang tertua.

Pada tahun 1000 berkembang kesusastraan Jawa yang melahirkan kakawin Arjunawiwaha yang mengkritik kehidupan Air Langga (Mpu Kanwa). Bharata Yudha karangan Mpu Kanwa dan mpu Panulu yang menggariskan perang saudara antara Kediri dan Jenggala. Bhinneka Tunggal Ika dikarang oleh Mpu Tantular.. jatuhnya Malaka tahun 1511 dan dilawannya Raja Johor oleh Raja Aceh pada abad ke-17, lahirlah buku Salatus Salatin (Sejarah Melayu) karangan Tun Muhammad Sri Lanang, yang dianggap merupakan hasil sastra yang jauh lebih lengkap dari buku-buku waktu itu.

Perkembangan kesusastraan di Jawa jauh lebih lengkap lagi dari kesusastraan Melayu, sebab data-datanya disimpan oleh Kraton Surakarta dan Jogjakarta yang terkenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Sejarah Kesusastraan Indonesia dimulai abad ke-20, seiring lahirnya Sumpah Pemuda,  yang diwakili karya pengarang-pengarang Balai Pustaka, sebelumnya digolongkan ke dalam sastra Melayu, karena sastra sebelum abad ke-20 masih menggunakan bahasa Melayu. Balai Pustaka nama majalah pertama berbahasa Indonesia, yang memuat hasil karya sastra pada waktu. Sedangkan pada abad ke-19, antara kesusastraan Melayu dengan Kesusastraan Indonesia dikatakan kesusastraan zaman peralihan, yang dipelopori oleh Abdullah Bin Abdulkadir Al-Munsyi. Selanjutnya pada tahun 1933 lahir lagi nama majalah Pujangga Baru yang memuat hasil karya sastra, yang berbahasa Indonesia dan lebih modern dibandingkan dengan Balai Pustaka. Dalam perkembangannya nama majalah Pujangga Baru, dijadikan nama sebuah Angkatan, yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana (STA), Armyn Pane, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah.

Akhirnya pada tahun 1945, Bahasa Indonesia lahir, secara otomatis kesusastraan Indonesia lahir secara resmi, setelah mengalami pergolakan yang dahsyat, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, bab XV, pasal 36 yang berbunyi, Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.

Beberapa pendapat tentang lahir kesusastraan Indonesia, antara:

1. Umar Yunus

Beliau mengatakan, bahwa sastra Indonesia lahir sejak bahasa Indonesia lahir secara resmi ada, yaitu sejak Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. bersamaan dengan lahirnya bahasa Indonesia, lahir pula sastra Indonesia.

2. Prof. Dr. Slametmulyono

Beliau memandang dari sudut politik. Sastra  lahir  bersama lahirnya bangsa, yakni tanggal 17 Agustus 1945. batas waktu itulah merupakan batas pembabakan kesusastraan Indonesia.

3. Subagio Sastrowardoyo

Beliau memandang dari sudut geografis. Kesusastraan Indonesia lahir sejak kesusastraan Melayu di tanah air kita menempuh jalan tersendiri dan merupakan semangat dan corak yang lain dengan bahasa dan sastra yang ada di daerah Semenanjung. Jadi batas permulaan itu kira-kira sekitar tahun 20-an.

4. Ayip Rosidi

Beliau mengatakan, bahwa kesusastraan Indonesia lahir sejak adanya kebangkitan dan kesadaran nasional, yakni sekitar tahun 1921, sedangkan penamaan sastra Indonesia adalah pada tanggal 28 Oktober 1928, sebab secara resmi bahasa Indonesia ada saat Sumpah Pemuda diikrarkan.

5. H.B.Yasin

Beliau membabakan sejarah sastra Indonesia, berdasarkan peristiwa politik dalam suatu bangsa dan perbedaan konsepsi antara satu dengan yang lain.

C.  Pembagian Kesusastraan

Menurut bentuk dan isinya, kesusastraan Indonesia dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu puisi dan prosa

1. Puisi

adalah karangan yang terikat kepada:

  1. Banyaknya bait dalam tiap-tiap gubahan.
  2. Banyaknya baris dalam tiap-tiap bait
  3. Banyaknya kata dalam tiap-tiap baris
  4. Sajak (persamaan bunyi)
  5. Irama

Pada dasarnya puisi dibedakan menjadi dua macam, yaitu puisi lama dan puisi baru, sebagai diagram pembagian berikut:

2. Prosa

Prosa berasal dari kata Prouersa yang berarti bahasa langsung, atau dapat dikatakan, bahwa prosa merupakan cerita yang ditulis dalam bahasa percakapan sehari-hari (karangan bebas). Di samping itu, pengertian prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat pada bentuk, irama, dan rima (sajak) atau tidak terikat oleh banyaknya suku kata dan jumlah baris. Keindahan terletak pada gaya bahasa pengarang yang mencerminkan jiwanya dalam menyusun dan menyampaikan buah pikirannya.

Prosa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Prosa lama
  2. Prosa baru

 

BAB III

KLASIFIKASI SASTRA INDONESIA

A.      Sifat Kesusastraan Lama dan Kesusastraan Baru

Pada umumnya, sifat sastra dipengaruhi oleh sifat masyarakat pada zamannya. Sifat masyarakat lama mempengaruhi kesusastraan lama, demikian pula sifat masyarakat baru mempengaruhi kesusastraan baru.

Sifat kesusastraan lama adalah

  1. Istana sentris (cerita berpusat di istana atau cerita mengenai keluarga istana)
  2. Statis (perubahannya sangat lambat)
  3. Bentuk karangan terikat pada bentuk yang sudah ada seperti pantun dan syair.
  4. Anonim (nama pengarang tidak disebutkan)
  5. Menggunakan bahasa klise (usang)
  6. Ciptaannya bersifat menghibur dan mendidik.

Sifat kesusastraan baru adalah

  1. Masyarakat sentris (cerita berpusat di masyarakat atau di luar tembok istana)
  2. Dinamis (beruba sesuai dengan perkembangan zaman)
  3. Terlepas dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukanorang lain dan memperlihatkan kepribadian pengarang.
  4. Setiap karangan dijelaskan nama pengarangnya.
  5. Menggunakan bahasa yang bervariasi
B.       Pengaruh-Pengaruh Kesusastraan Melayu Lama
  1. 1.    Pengaruh Hindu
  2. Adanya bentuk gurindam dan seloka
  3. Pengolahan cerita bersumber pada cerita Ramayana.

Misalnya:

Hikayat Seri Rama

Hikayat maharaja Rawana

Yang bersumber dari Mahabharata

Misalnya:

Hikayat Pandawa Lima

Hikayat Sang Boma

Yang bersumber dari Pancatantra

Misalnya:

Hikayat Panca tanderan

Hikayat Kalilah dan Damina

  1. 2.    Pengaruh Persi

Pengaruh ini nampak pada adanya ajaran mistik dalam hasil karya Hamzah Fansuri

Misalnya:

Hikayat Bakhtiar

Tajussalatina

Bustanussalatina

 

  1. 3.    Pengaruh Arab – Persi

Pengaruh ini nampak pada adanya bentuk-bentuk: syair, gazal, kith’ah, dll.

Misalnya:

Hikayat 1001 Malam

Hikayat Iskandar Zulkarnaen

Hikayat Amir Hamzah

  1. 4.    Pengaruh Jawa

Pengaruh ini nampak pada cerita-cerita panji.

Misalnya:

Hikayat Panji Semirang

Hikayat Panji Kuda Semirang

Syair Ken Tambuhan

C.      Kesusastraan Lisan

Kesusastraan Lisan adalah kesusastraan yang hanya dituturkan saja dari mulut ke mulut. Jadi tersiarnya berlangsung secara lisan. Ujudnya mula-mula hanya berupa ikatan bahasa yang berfungsi untuk memperoleh kesaktian, misalnya mantera-mantera, pesona, serapah, pantun hukum yang diucapkan oleh pawang. Di samping itu, terdapat juga ikatan bahasa yang berfungsi hiburan, yaitu berupa cerita-cerita penglipur lara. Dalam pergaulan sehari-hari timbullah teka-teki, sindiran, peribahasa, pantun, pencurahan  isi hati, dan seterusnya. Orang yang dianggap pegang peranan dalam penyebaran sastra lisan pada zaman dahulu kala adalah pawang dan pelipur lara.

Pawang adalah orang yang pandai dalam beberapa hal yang bersangkut paut dengan pemujaan terhadap makhluk halus.

Tugas Pawang adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai pemimpin dalam segala hal yang berhubungan dengan makhluk halus,
  2. Sebagai dukun bertenaga gaib, dengan manteranya dapat mengobati orang sakit, serta menjauhkan dari segala gangguan gaib,
  3. Sebagai kepala adat atau hakim dalam perselisihan, dan
  4. Sebagai juru bahasa.

Pelipur Lara yaitu ahli bercerita yang berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk bercerita dengan memperoleh bayaran. Jadi sejenis Dalang di Jawa, Tukang Kaba di minangkabau.

Keistimewaannya, dalam bercerita ia pandai memikat hati para pendengarnya untuk melupakan kesedihan mereka, sehingga ceritanya justru disebut Pelipur Lara.

Caranya bercerita, dengan berirama dan berlagu, yang dipentingkannya pemakaian kata-kata yang tepat dan lukisan-lukisan tentang adegan-adegan kecantikan, kegagahan, kebesaran raja, keindahan istana, kemakmuran negara, dan lain-lain. Semua itu sudah merupakan klise yang selalu diulang-ulang mengucapkannya.

Contoh cerita Pelipur Lara:

Si Umbut Muda

Hikayat Malim Dewa

Hikayat Raja Muda

Hikayat Anggun Cik Tunggal

Hikayat awang Sulung Merah Muda

D.      Kesusastraan Zaman Abdullah atau Zaman Peralihan

Disebut kesusastraan zaman  Abdullah atau zaman Peralihan, karena :

  1. Adanya Perubahan corak kesusastraan itu yang dipelopori oleh Abdullah Bin Abdulkadir Al-Munsyi.
  2. Kesusastraan yang berkembang pada masa itu semata-mata hasil ciptaan Abdullah sendiri (berani mencantum nama pengarang), karena tidak mempunyai pengikut.
  3. Terjadi peristiwa mulainya meninggalkan kesusastraan lama menuju pada kesusastraan baru.

Pembaharuan sastra Abdullah meliputi:

  1. yang dikemukakan realistis bukan fantastis, tidak menceritakan sekitar istana saja (istana sentris), akan tetapi masyarakat sentris.
  2. Sudah berani menyatakan diri (karangan dicantumkan), sebelumnya tidak ada (anonim).
  3. Peristiwa yang dikemukakan lebih luas.
  4. Bahasanya Abdullah berusaha mengurangi bahasa klise dan kata-kata Arab.

BAB IV

PUISI LAMA

  1. A.  Mantra

Yang disebut Mantra adalah kata-kata yang mengandung hikmah dan kekuatan gaib. Kata-kata ini biasanya hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu seperti dukun atau pawang. Tidak setiap orang boleh mengucapkan mantra, karena kesalahan dalam mengucapkan, menurut kepercayaan dapat mendatangkan bahaya.

Di bawah ini, mantra yang diucapkan oleh pawang di Malaysia Timur Laut pada masa dahulu bila akan menyadap nira. Kepada roh itu lebih dahulu harus diucapkannya kata-kata mantra sebagai berikut:

Assalamualaikum putri satokong besar

Yang beralun berilir si mayang

Mari kecil, kemari !

Mari seni, kemari !

Mari halus, kemari, !

Aku memaut lehermu.

Aku memanggul rambutmu.

Aku membawa sadap gading.

Akan membasuh mukamu.

Sadap gading merancung kamu.

Kaca gading menadahkanmu

Kolam gading menanti di bawahmu.

Bertepuk berkicar dalam kolam gading.

Kolam bernama maharaja bersalin.

  1. B.  Bidal

Bidal disebut juga steno bahasa, karena dari beberapa buah perkataan dapat melahirkan beberapa buah pikiran yang panjang. Bidal ini termasuk bentuk puisi yang tertua juga setelah mantra.

Contoh:

Tua-tua keladi

Makin tua makin menjadi.

Anak dipangku dilepaskan

Beruk di rimba disusukan.

Yang termasuk dalam golongan Bidal adalah:

  1. 1.    Peribahasa

Yaitu suatu hal yang dilukiskan dalam kalimat pendek dan mempunyai arti tersirat sebagaimana bidal.

Contoh:

-       Duduk di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir.

-       Berjalan peliharakan kaki, berkata pelihara lidah.

  1. 2.    Perumpamaan

Yaitu kalimat yang mengungkapkan keadaan atau kelakuan seseorang dengan mengambil perbandingan dari alam sekitar, senantiasa didahului oleh kata-kata perbandingan, misalnya: sebagai, bagai, seperti, sepantun, laksana, penaka, seumpama, bak, serupa, bagaikan, dan lain.

Contoh:

-       Seperti air di atas daun talas.

-       Seperti anjing dengan kucing.

-       Wajahnya pucat bagai bulan kesiangan.

  1. 3.    Tamsil

Tamsil atau ibarat seperti perumpamaan juga, tetapi diiringi dengan bagian-bagian kalimat yang menjelaskan.

Contoh:

-       Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

-       Ibarat balam, mata lepas badan terkurung.

  1. 4.    Ungkapan

Yaitu kiasan tentang keadaan atau kelakuan seseorang yang dinyatakan dengan sepatah atau beberapa patah kata yang merupakan bagian kalimat (frase).

Contoh:

-       Orang itu berhati jantan (= berani)

-       Anak itu berperut karet. (= pemakan banyak)

-       Setiap hari ia harus membanting tulang untuk menghidupi anak istrinya. (= bekerja keras)

  1. 5.    Pemeo

Yaitu kata-kata yang menjadi populer, kemudian selalu diucapkan kembali baik yang mengandung dorongan semangat maupun yang mengandung ejekan.

-       Sekali merdeka, tetap merdeka !

-       Oleh rakyat, dari rakyat, untuk rakyat !

  1. 6.    Pepatah

Yaitu kalimat sindiran untuk mematahkan seseorang yang biasanya mustahil akan terjadi.

-       Besar pasak daripada tiang.

-       Pucuk dicinta ulam tiba.

  1. C.  Pantun

Merupakan jenis puisi lama yang berupa puisi asli Indonesia, atau sejenis puisi yang dilisankan dan biasanya memakai lagu. Bagi orang Melayu atau bangsa Indonesia pada umumnya pantun dipakai untuk mencurahkan isi hati, menyatakan cinta kasih, suka cita, kerinduan, kekecewaan, nasihat, hiburan, teka-teki, dan lain-lain. Pendek kata, isinya mengandung segala macam perasaan rakyat, sehingga layak disebut puisi rakyat. Namun demikian, istilah pantun di setiap daerah mempunyai sebutan yang berbeda-beda:

Misalnya:

Daerah

Sebutan

Melayu Pantun
Aceh Panton
Batak Umpama
Batak Mandailing Ende-ende
Bengkulu Rejong
Jawa Barat Lagu Doger
Jawa Tengah Parikan
Jawa Timur Parikan, Ludrukan
Pasundan Sesindiran, Sesuwalan
Ambon Panton

Perhatikan contoh pantun berikut ini:

  1. Kalau ada sumur di ladang

Dapatlah kita menumpang mandi

Kalau ada umur panjang

Tentulah kita bertemu lagi.

  1. Air dalam bertambah dalam

Hujan di hulu belum lagi teduh

Hati dendam bertambah dendam

Dendam dahulu belum lagi sembuh

Kalau diperhatikan contoh pantun di atas, nampak dengan jelas ciri-ciri pantun sebagai berikut:

  1. Tiap-tiap bait pantun terdiri dari 4 baris.
  2. Tiap-tiap baris terjadi dari 8 – 12 suku kata.
  3. baris ke-1 dan ke-2 merupakan sampiran, baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi.
  4. Bersajak ab ab

Menurut isinya pantun dibedakan menjadi:

  1. Pantun anak-anak
  2. Pantun orang muda
  3. Pantun nasihat
  4. pantun jenaka
  5. Pantun teka-teki

Contoh:

Pantun Anak-anak              : Elok rupanya kumbang jati

Dibawa itik pulang petang

Tidak terkira besarnya hati

Melihat bunda sudah pulang.

Pantun orang muda                        : Elok sungguh permata selan

Buatan dewa dari angkasa

Pahit sungguh rindukan bulan

Bulan tidak menimbang rasa.

Pantun Nasihat                   : Tuan khatib duduk di Mihrat

Kaki terjuntai keduanya

Setangkai dunia dengan akhirat

Sama dipakai keduanya.

Pantun Jenaka                    : Kemumu tumbuh di lubuk

Rambai berputik dalam ladang

Bertemu gemuk sama gemuk

Bagai itik pulang petang.

Pantun Teka-teki                : Kalau puan puan cerana

Ambil gelas di dalam peti

Kalau tuan bijak laksana

Binatang apa tanduk di kaki.

Menurut bentuknya pantun dibedakan menjadi:

  1. Pantun biasa
  2. Pantun berkait
  3. Talibun
  4. Pantun kilat (karmina)
  1. 1.    Pantun Biasa

Yaitu semua contoh pantun yang diberikan adalah pantun biasa, atau disebut pantun saja.

  1. 2.    Pantun Berkait

Pantun berkait disebut juga pantun berantai, ada pula yang menamakannya seloka, yaitu ikatan pantun yang terdiri dari beberapa bait. Baris ke-2 dan ke-4 pada tiap-tiap pantun menjadi baris ke-1 dan ke-3 pantun berikutnya. Demikianlah pantun yang satu terkait oleh pantun yang lain, sehingga merupakan rangkaian pantun yang bersambung-sambungan.

Contoh:

Buah ara batang dibantun

Mari dibantun dengan parang

Hai saudara dengarlah pantun

Pantun tidak mengata orang

Mari dibantun dengan parang

Berangan besar di dalam padi

Pantun tidak mengata orang

Janganlah syak di dalam hati

Berangan besar di dalam padi

Rumpun buluh dibuat pagar

                               Janganlah syak di dalam hati

Maklum pantun saya baru belajar

  1. 3.    Talibun

yaitu suatu gubahan yang berbentuk pantun, tetapi jumlah barisnya lebih dari 4 dalam setiap bait dan jumlah baris itu harus pula genap, misalnya 6,8,10, dan seterusnya.

Ciri-cirinya:

  1. Jumlah baris setiap bait talibun lebih dari 4 baris dan genap (6,8,10, dst.)
  2. Tiap-tiap baris terjadi dari 8 – 12 suku kata.
  3. Baris ke-1 dan ke-2 merupakan sampiran, baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi.
  4. Sajak akhirnya secara vertikal dapat dirumuskan: abc abc, abcd abcd, dst.

Contoh:

  1. Kalau anak pergi ke lepau

Yu beli belanak pun beli

Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi merantau

Ibu cari sanak pun cari

Induk semang cari dahulu

  1. Siapa berlangir ke tepian

Jangan dahulu balik pulang

Rusa terdampar dalam lembah

Ekornya hitam kena bara

Kakanda berlayar ke lautan

Banyak memetik bunga kembang

Adinda tinggal tengah rumah

Tidur bertilam air mata.

  1. 4.    Pantun Kilat (Karmina)

yaitu pantun yang hanya terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi. Sebenarnya pantun kilat terdiri dari empat baris, yang setiap barisnya bersuku kata empat atau lima, lalu kedua baris yang pendek tersebut diucapkan sekaligus seolah-olah sebuah kalimat, dan biasanya dituliskan sebaris saja. Oleh sebab itu, kemudian terlihat seakan-akan pantun dua baris, sehingga dinamakan pantun dua seuntai.

Contoh:      Gendang gendut,

Tali kecapi.

Kenyang perut,

Senanglah hati.

Lalu dijadikan :           Gendang gendut, tali kecapi,

Kenyang perut, senanglah hati.

Ciri-ciri pantun kilat, sebagai berikut:

  1. Setiap bait terdiri dari 4 baris (terkadang disusun menjadi 2 baris)
  2. Setiap baris terdiri dari 4 – 6 suku kata
  3. Baris ke-1 dan ke-2 merupakan sampiran, baris ke-3 dan ke-4 merupakan maksud.
  4. Bersajak a b a b

Contoh :

Pinggang tak retak,

nasi tak ingin,

Tuan tak hendak,

kami tak ingin.

Atau

Pinggang tak retak, nasi tak ingin,

Tuan tak hendak, kami tak ingin.

Sudah gaharu,

cendana pula,

Sudah tahu,

bertanya pula.

Atau

Sudah gaharu, cendana pula,

Sudah tahu, bertanya pula.

  1. D.  Gurindam

Merupakan puisi lama yang terdiri atas dua baris dalam setiap bait. Keempat baris itu semuanya berupa isi, yang berisikan nasihat dan sindiran. Gurindam ini menurut bentuknya termasuk bentuk pengaruh dari luar yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1000, dan berasal dari Tamil. Di dalam kesusastraan Melayu, yang termasyhur adalah Gurindam 12 (= gurindam yang terdiri dari 12 bagian) karangan Raja Ali Haji, yang dikarang pada tahun 1894.

Ciri-cirinya:

  1. Setiap bait terdiri dari 2 baris.
  2. Setiap baris terdiri dari 10 – 14 suku kata.
  3. Hubungan baris ke-1 dan baris ke-2 seolah-olah membentuk kalimat majemuk atau dalam hubungan sebab – akibat.
  4. Isi merupakan nasihat atau  petuah.
  5. Bersajak a a

Contoh :     A.   Kurang fikir, kurang siasat.

Tentu dirimu kelak tersesat.

B.   Fikir dahulu sebelum berkata

Supaya terelak silang sengketa

C.   Siapa menggemari silang sengketa

Kelaknya pasti berduka cita

D.   Cahari olehmu akan sahabat

Yang boleh dijadikan obat

E.   Cahari olehmu akan guru

Yang boleh tahu akan seteru.

  1. E.  Syair

Kata syair berasal dari Arab, syaara atau syuur, yang artinya bertembang, bermadah atau bersyair. Isi syair berupa nasihat, cerita, dongeng, lukisan peristiwa, pengajaran, mistik, dan lain-lain. Syair muncul di Indonesia setelah agama Islam beserta kesussastraan Islam tersebar di Indonesia sekitar tahun 1300. . Oleh dr. C. Hooykaas diterangkan, bahwa syair yang tertua dalam bahasa Melayu, yaitu yang terdapat di sebuah batu nisantua di Minye Tujoh (Aceh), berangka tahun 7814 = 1380 M, bahasanya adalah kata-kata Melayu Kuno bercampur dengan kata-kata India Kuno dengan kata-kata Arab, hurufnya menggunakan huruf Sumatera – Kuno. Pada abad pertengahan, syair mendapat tempat yang penting dalam masyarakat, karena pada masa itu, karangan dalam bentuk prosa belum dikenal benar, hampir semua cerita atau hikayat ditulis dalam bentuk syair. Dewasa ini syair sudah terdesak ke tepi.

Ciri-ciri syair, yaitu:

  1. Setiap bait terdiri dari 4 baris.
  2. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.
  3. Keempat barisnya berturut-turut mempunyai hubungan logis.
  4. Bersajak sama  a a a a

Contoh:

A.  Hidup Sengsara

Setelah di dengar raja bestari

Murka baginda tidak terperi

Pedang terhunus baginda sendiri

Permaisuri tua memegangkan diri

Seraya katanya jangan begitu

Pandangkan mata saudaramu itu

Jika dibunuh bundanya itu

Jadilah dinda tidak bertentu.

…………………………………

Contoh Syair Abdul Muluk

Berhentilah kisah raja Hindustan

Tersebutlah pula suatu perkataan

Abdul Hamid Syah paduka Sultan

Duduklah Baginda bersuka-sukaan

Abdul Muluk putra baginda

Besarlah sudah bangsawan muda

Cantik menjelis usulnya syahda

Tiga belas tahun umurnya ada

Parasnya elok amat sempurna

Patah menjelis bijak laksana

Memberi hati bimbang gulana

Kasih kepadanya mulia dan hina.

Berdasarkan isinya, syair dapat digolongkan menjadi:

  1. 1.      Syair yang berisi cerita atau dongeng

Contoh:

  1. Syair bidasari
  2. Syair Anggun Cik Tunggal
  3. Syair Gul Begawali
  4. Syair Putri Hijau
  1. 2.      Syair Sindiran atau kiasan kepada seseorang

Contoh:

  1. Syair burung punguk
  2. Syair kumbang dan melati
  3. Syair ikan tambera
  4. Syair burung nuri
  1. 3.      Syair yang melukiskan kejadian pada suatu masa

Contoh:

  1. Syair Singapura dimakan api
  2. Syair perang menteng di Palembang
  3. Syair Perang Banjarmasin
  1. 4.      Syair-syair pengaruh sastra Jawa

Contoh:

  1. Syair damarwulan
  2. Syair Ken Tambuhan
  3. Syair bibi marhumah yang Saleh
  1. 5.      Syair yang berisi pengajaran dan agam

Contoh:

  1. Syair Hari Kiamat
  2. Syair Sidi Ibrahim
  3. Syair Prabu

 

This entry was posted in KESUSASTRAAN INDONESIA I. Bookmark the permalink.

Leave a Reply