METODE DEMONSTRASI

JUDUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS IV SDN ………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Nama Guru, 2009. Peningkatan Prestasi Belajar PAI dengan Diterapkannya Metode demonstrasi Pada Siswa Kelas IV SDN …………………………………..… Tahun Pelajaran 2009/2010.

 

Kata Kunci: pembelajaran pai, metode demonstrasi

Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk perangkat program pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan selalu menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Baagimanakah peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya metode demonstrasi? (b) Bagaimanakah pengaruh metode demonstrasi terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam?

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya metode demonstrasi, (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan metode demonstrasi.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas IV SDN ……………. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar.

Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (65,85%), siklus II (78,00%), siklus III 87,80%).

Simpulan dari penelitian ini adalah metode pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dapat berpengaruh positif terhadap prestasi dan motivasi belajar Siswa SDN ……………………., serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman

Halaman Judul …………………………………………………………………………………….          i

Halaman Pengesahan …………………………………………………………………………………. ii

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………………. iii

Abstrak ……………………………………………………………………………………………………. iv

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………….. v

BAB ….. I       PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah  ………………………………………………………….. 3
  3. Batasan Masalah …………………………………………………………….. 4
  4. Tujuan Penelitian …………………………………………………………….. 5
  5. Manfaat Penelitian  …………………………………………………………. 5
  6. Definisi Operasional Variabel …………………………………………… 5

BAB      II       KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi Pembelajaran  …………………………………………………….. 7

B. Motivasi Belajar  …………………………………………………………….. 8

C.. Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam

….. Pada Siswa …………………………………………………………………… 13

D.. Metode Demonstrasi ……………………………………………………… 15

BAB     III      METODOLOGI PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian  ……………………………………………………. 23
  2. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………………. 27
  3. Subyek Penelitian  …………………………………………………………. 27
  4. Prosedur Penelitian ……………………………………………………….. 27
  5. Analisis Data  ……………………………………………………………….. 28
  6. Instrumen Penelitian ……………………………………………………… 29

BAB     IV      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hubungan Metode Demonstrasi dengan Ketuntasan …………. 33
  2. Pembahasan ………………………………………………………………….. 49

BAB     V      SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan ……………………………………………………………………… 51
  2. Saran……………………………………………………………………………. 51

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………… 53

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Semua manusia di dalam hidupnya di dunia ini, selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut Agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa, tempat mereka berlindung dan tempat mereka memohon pertolongan-Nya. Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitive maupun pada masayarakat yang sudah modern. Merka akan merasa tenang dan tenteram hatinya kalau mereka dapat mendekat dan mengabdikan diri kepeda Dzat Yang Maha Kuasa. Hal semacam ini memang sesuai dengan firman Allah dalam Surat Ar-Rad ayat 28, yang artinya, “Ketahuilah, bahwa hanya dengan ingat kepada Allah, hati akan menjadi tenteram.”

Karena itu manusiakanselalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, hanya saja cara mereka mengabdi dan mendekatkn diri kepada Tuhan itu berbeda sesuai denagn agama yang dianutnya. Itulah sebabnya, bagi orang Muslim diperlukan adanya Pendidikan Agama Islam, agar dapat mengarahkan fitroh mereka tersebut kearah yang benar, sehingga mereka akan dapat mengabdi dan beribadah sesuai dengan ajaran Islam. Tanpa adanya Pendidikan Agama dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka orang akan semakin jauh dari Agama yang benar.

Tujuan dari Pendidikan Agama adalah untuk membimbing anak agar mereka menjadi orang Muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, Agama dan Negara, (Euharini, dkk. 1977:25).

Tujuan pendidikan Agama tersebut adalah merupakan tujuan yang hendak dicapai oelh setiap orang yang melaksanakan pendidikan Agama. Karena itu dalam mendidikan agam yang perlu ditanamkan terlebih dahuilu adalah keimanan yang teguh, sebab dengan adanya keimanan yang teguh itu maka akan menghasilakn ketaatan menjalankan kewajiban agama.

Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk perangkat program pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan selalu menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Dengan memperhatikan gejala-gejala tersebut diatas maka timbul pertanyaan dalam benak penulis sejauh manakah keberhasilan pengajaran Pendidikan Agama Islam selama ini? Padalah sering digembar-gemborkan sebagai bangsaIndonesiakita harus atau wajib mengamalkan Pancasila sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Tatapi kenyataannya masih banyak terdapat penyimpangan-penyimpangan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Diantaranya faktor tesebut adalah strategi pembelajaran yang kurang mengena terhadap terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam dengan Diterapkannya Metode Demonstrasi Pada Siswa Kelas IV SDN ………..

  1. B.     Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut:

  1. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya metode demonstrasi pada siswa Kelas IV SDN …………?
  2. Bagaimanakah pengaruh metode demonstrasi terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa Kelas IV SDN  ……………. ?
  1. C.    Batasan Masalah
  1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas IV SDN ………
  2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November semester ganjil …..
  3. Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan sholat.
  1. D.    Tujuan Penelitian

     Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya metode demonstrasi pada siswa Kelas IV SDN …….
  2. Mengetahui pengaruh motivasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan metode demonstrasi pada siswa Kelas IV SDN …………..
  3. Menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa Kelas IV SDN ……………..
  1. E.     Manfaat Penelitan

Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:

  1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam
  2. Sumbangan pemikiran bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam.
  3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
  4. Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
  5. Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam.
  1. F.     Definisi Operasional Variabel

Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Metode Demonstrasi adalah

Istilah dalam pengajaran yang dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasioan peralatan barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang mengdemosntasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).

  1. Motivasi belajar adalah:

Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

  1. Prestasi belajar adalah:

Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    Definisi Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996:14).

Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993:68) mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang dengan sengaja dikalukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah pengetahuan, bekembang daya pikir, sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993:120).

Pasal 1 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.

  1. B.     Motivasi Belajar
  1. Konsep Motivasi

Pengajaran tradisional menitik beratkan pada metode imposisi, yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik, Oemar: 2001:157). Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kesanggupan, kebutuhan, minat, dan tingkat kesanggupan, serta pemahaman murid. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid.

Sejak adanya penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi tentang kepribadian dan tingkah laku manusia, serta perkembangan dalam bidang ilmu pendidikan maka pandangan tersebut kemudian berubah. Faktor siswa didik justru menjadi unsur yang menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran berdasarkan “pusat minat” anak makan, pakaian, permainan/bekerja. Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya seperti Dr. John Dewey, yang terkenal dengan “pengajaran proyeknya”, yang berdasarkan pada masalah yang menarik minat siswa, sistem perekolahan lainnya. Sehingga sejak itu pula para ahli berpendapat, bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu, dan perbuatan belajar akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang ada pada murid. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua perbuatan, tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. Seekor kuda dapat digiring ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk minum. Demikian pula juga halnya dengan murid, guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepada mereka, akan tetapi guru tidak mungkin dapat memaksanya untuk belajar belajar dalam arti sesungguhnya. Inilah yng menjadi tugas yang paling berat yakni bagaimana caranya berusaha agar murid mau belajar, dan memiliki keinginan untuk belajar secara kontinyu.

  1. Pengertian Motivasi

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28).

Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.

Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

  1. Macam-macam Motivasi

Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Motivasi Intrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29).

Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:

1)      Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa.

2)      Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok.

3)      Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah.

4)      Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya.

5)      Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.

  1. Motivasi Ekstrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29).

Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117), motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.

Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain:

1)      Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.

2)      Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.

3)      Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan.

4)      Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.

5)      Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.

6)      Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.

  1. C.    Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa

Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru merupakan kunci dalam proses belajar mengajar. Bila hal ini dilihat dari segi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. Nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru bidang studi pengajarannya. Walalu demikian nilai lebih itu tidak akan dapat diandalkan oleh guru, apabila ia tidak memiliki teknik-teknik yang tepat untuk mentransferkan kepada siswa. Disamping itu kegiatan mengajar adalah suatu aktivitas yang sangat kompleks, karena itu sangat sukar bagi guru Pendidikan Agama Islam bagaimana caranya mengajar dengan baik agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Pendidikan Agama Islam.

Untuk merealisasikan keinginan tersebut, maka ada beberapa prinsip umum yang harus dipengang oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam menjalankan tugasnya. Menurut Prof. DR. S. Nasution, prinsip-prinsip umum yang harus dipengang oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut:

  1. Guru yang baik memahami dan menghormati siswa.
  2. Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya.
  3. Guru hendaknya menyesuaikan bahan pelajaran yang diberikan dengan kemampuan siswa.
  4. Guru hendaknya menyesuaikan metode mengajar dengan pelajarannya.
  5. Guru yang baik mengaktifkan siswa dalam belajar.
  6. Guru yang baik memberikan pengertian, bukan hanya dengan kata-kata belaka. Hal ini untuk menghindari verbalisme pada murid.
  7. Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan siswa.
  8. Guru terikat dengan texs book.
  9. Guru yang baik tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan, melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya.

Sehubungan dengan upaya meningkatkan motivasi belajar siswa ada dua prinsip yang harus diperhatiakn oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. Saton sebagai berikut:

  1. Menyelidiki dengan jelas dan tegas apa yang diharapkan dari pelajaran untuk dipelajari dan mengapa ia diharapkan mempelajarinya.
  2. Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingnya memiliki skill dan pengetahuan yang akan diberikan oleh program pendidikan itu.

Dari prinsip-prinsip umum di atas, menunjukkan bahwa peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar Pendidikan Agama Islam dapat dikatakan sangat dominan, begitu pula dalam meningkatkan motivasi belajar siswa tampaknya guru yang mengetahui akan kemampuan siswa-siswanya baik secara individual maupun secara kelompok, guru mengetahui persoalan-persoalan belajar dan mengajar, guru pula yang mengetahui kesulitan-kesuliatan siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam dan bagaimana cara memecahkannya.

D. Metode Demonstrasi

  1. Definisi

Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasioan peralatan baran gatau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang mengdemosntasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).

Dalam mengajarkan praktek-praktek agama, Nabi Muhammad sebagai pendidik agung banyak mempergunakan metode ini. Seperti mengajarkan cara wudhu’, shalat, haji dan sebagainya.

Dalam suatu hadist pernah Nabi menerangkan kepada umatnya; sabda Rasulullah SAW: “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu lihat aku sembahyang” (H.R. Bukhari).

Bila kita perhatikan hadist tersebut, nyatalah bahwa cara-cara sembahyang tersebut pernah dipraktekkan dan didemonstrasikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sabda Rasulullah lagi: dari Djabir, katanya: “Saya melihat Nabi Muhammad SAW melontarkan jumrah di atas kendaraan beliau pada Hari Raya Haji, lalu beliau berkata: “Hendaklah kamu turut cara-cara ibadah sebagaimana yang aku kerjakan ini, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui apakah aku akan dapat mengerjakan haji lagi sesudah ini.”

Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian peralatan barang atau benda (Ramayulis, 244.1990). Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang mendemonstrasikan (guru, peserta didik atau orang luar) mempertunjukkan sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan.

  1. Kebaikan Metode Demonstrasi
  1. Keaktifan peserta didik akan bertambah, lebih-lebih kalau peserta didik diikut sertakan.
  2. Pengalaman peserta didik bertambah karena peserta didik turut membantu pelaksanaan suatu demonstrasi sehingga ia menerima pengalaman yang bisa mengembangkan kecakapannya.
  3. Pelajaran yang diberikan lebih tahan lama. Dalam suatu demonstrasi, peserta didik bukan saja mendengar suatu uraian yang diberikan oleh guru tetapi juga memperhatikannya bahkan turut serta dalam pelaksanaan suatu demonstrasi .
  4. Pengertian lebih cepat dicapai. Peserta didik dalam menanggapai suatu proses adalah dengan mempergunakan alat pendengar, penglihat, dan bahkan dengan perbuatannya sehingga memudahkan pemahaman peserta didik dan menghilangkan sifat verbalisme dalam belajar.
  5. Perhatian peserta didik dapat dipusatkan dan titik yang yang dianggap penting oleh guru dapat diamati oleh peserta didik seperlunya. Sewaktu demonstrasi perhatian peserta didik hanya tertuju kepada suatu yang didemonstrasikan sebab peserta didik lebih banyak diajak mengamati proses yang sedang berlangsung dari pada hanya semata-mata mendengar saja.
  6. Mengurangi kesalahan-kesalahan. Penjelasan secara lisan banyak menimbulkan salah paham atau salah tafsir dari peserta didik apalagi kalau penjelasan tentang suatu proses. Tetapi dalam demonstrasi, disamping penjelasan lisan juga dapat memberikan gambaran konkrit.
  7. Beberapa masalah yang menimbulkan petanyaan atau masalah dalam diri peserta didik dapat terjawab pada waktu peserta didik mengamai proses demonstrasi.
  8. Menghindari ”coba-coba dan gagal”  yang banyak memakan waktu belajar, di samping praktis dan fungsional. Khususnya bagi peserta didik yang ingin berusaha mengamati secara lengkap dan teliti atau jalannya sesuatu.
  9. Metode ini membutuhkan kemampuan yang optimal dari pendidikan untuk itu perlu persiapan yang matang.
  10. Sulit dilaksanakan kalau tidak ditunjang oleh tempat, waktu dan peralatan.
  1. Kelemahan Metode Demonstrasi
  1. Mempesiapkan Suatu Demonstrasi

Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan pesiapan yang teliti dan cermat. Sejauh mana persiapan itu dilakukan amat banyak tergantung kepada pengalaman yang telah dilalui dan kepada macam atau demonstrasi apa yang ingin disajikan. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan demonstrasi yang diperlukan:

  1. Perumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan peserta didik itu akan dapat melaksanakan kegiatan yang didemonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir. Untuk itu hendaknya guru mempertimbangkan:

1)      Apakah metode itu wajar dipergunakan dan merupakan cara paling efektif untuk mencapai tujuan intrusional khusus tersebut.

2)      Apakah alat-alat yang diperlukan itu mudah diperoleh dan sudah dibacakan terlebih dahulu atau apakah kegiatan-kegiatan fisik bisa dilakukan dan telah dilatih kembali sebelum demonstrasi dilakukan.

3)      Apakah jumlah peserta didik tidak telalu besar yang memerlukan tempat dan tata ruang khsusus agar semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

  1. Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan. Dan sebaiknya sebelum demonstrasi, guru sudah mencobakannya lebih dahulu agar demonstrasi itu tidak gagal.

1)      Apakah guru terbiasa atau memahami benar terhadap semua langkah-langkah atau tahap-tahap dari demonstrasi yang akan dilakukan.

2)      Apakah guru mepunyai pengalaman yang cukup untuk menjelaskan setiap langkah demonstrasi itu.

3)      Apakah tidak membutuhkan latihan lanjutan untuk menguasai demonstrasi itu.

  1. Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan. Hendaknya guru sudah merncanakan seluruh waktu yang dipakai maupun batas waktu untuk langkah demonstrasi yang akan dilakukan sehingga pertanyaan-pertanyaan di bawah ini terjawab.

1)      Apakah kendalanya juga sudah termasuk waktu untuk memberi kesempatan kepada peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi?

2)      Berapa lama waktu yang dipakai untuk memberi rangsangan atau motivasi agar peserta didik berpartisipasi dan melakukan observasi ulang, baik sebagian maupun keseluruhan?

3)      Apakah ke dalamnya juga termasuk waktu untuk mengadakan demonstrasi ulang, baik sebagian maupun keseluruhan?

  1. Selama demonstrasi berlangsung guru dapat mempertanyakan kepada diri sendiri apakah:

1)      Keterangan-keterangan itu dapat didengar jelas oleh peserta didik.

2)      Kedudukan alat atau kedudukan guru sendiri sudah cukup baik sehingga semua peserta didik dapat melihatnya dengan jelas.

3)      Terdapat cukup waktu dan kesempatan untuk membuat catatan seperlunya bagi peserta didik.

  1. Mempertimbangkan pengguanan alat bantu pengajaran lainnya, sesuai dengan luasan makna dan isi dari demonstrasi. Untuk itu  dapat dipertanyakan hal-hal berikut:

1)      Adakah guru menyimpulkan kegiatan dari setiap langkah-langkah pokok demonstrasi itu.

2)      Bagaimana dan kapan dilakukan semua hal-hal itu, sebelum, sesudah atau selama demonstrasi itu berlangsung.

  1. Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan murid. Seringkali perlu telebih dahulu dilakukan diskusi-diskusi dan peserta didik mencobakan kembali atau mengadakan demonstrasi ulang untuk memperoleh kecakapan yang lebih baik.

 


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Menurut Sukidin dkk. (2002:54) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan, yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif, dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental.

Keempat bentuk penelitian tindakan di atas, ada persamaan dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, (Sukidin, dkk. 2002:55), cirri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada: (1) tujuan utamanya atau pada tekanannya, (2) tingkat kolaborasi antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar, (3) proses yang digunakan dalam melakukan penelitian, dan (4) hubungan antara proyek dengan sekolah.

Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

  1. A.    Rancangan Penelitian

Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat atau sekolompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, 2002:82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tidakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan invovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut:

  1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.
  2. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.
  3. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien, artinya terpilih dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.
  4. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci, dan terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.
  5. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu. (Arinkunto, Suharsimi, 2002:82-83).

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharisimi, 2002: 83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:

Refleksi

Tindakan/

Observasi

Refleksi

Tindakan/

Observasi

Refleksi

Tindakan/

Observasi

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 Alur PTK

Penjelasan alur di atas adalah:

  1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
  2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah.
  3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
  4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rangcangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

Observasi dibagi dalam setiap siklus, yaitu siklus 1, 2, dan seterusnya, dimana masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

  1. B.     Tempat dan Waktu Penelitian

1.   Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN …………………………………………….

2.   Waktu Penelitian

Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November semester ganjil 2009/2010.

  1. C.    Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas IV SDN ……………….. tahun pelajaran 2009/2010 pada pokok bahasan sholat.

 

  1. D.    Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap penyelesaian.

  1. TahapPersiapan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan ini adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian. Dalam kegiatan ini diharapkan pelaksanaan penelitian akan berjalan lancer dan mencapai tujuan yang diinginkan. Kegiatan persiapan ini meliputi: (1) kajian pustaka, (2) penyusunan rancangan penelitian, (3) orientasi lapangan, dan (4) penyusunan instrumen penelitian.

  1. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan penelitian ini, kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) pengumpulan data melalui tes dan pengamatan yang dilakukan persiklus, (2) diskusi dengan pengamat untuk memecahkan kekurangan dan kelemahan selama proses belajar mengajar persiklus, (3) menganalisi data hasil penelitian persiklus, (4) menafsirkan hasil analisis data, dan (5) bersama-sama dengan pengamat menentukan langkah perbaikan untuk siklus berikutnya.

  1. Tahap Penyelesaian

Dalam tahap penyelesaian, kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) menyusun draf laporan penelitian, (2) mengkonsultasikan draf laporan penelitian, (3) merevisi draf laporan penelitian, (4) menyusun naskah laporan penelitian, dan (5) menggandakan laporan penelitian.

D. Analisis Data

Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat mengahsilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. Car perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:

  1. Merekapitulasi hasil tes.
  2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%.
  3. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat pada aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
  1. E.     Instrumen Penelitian

Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: (1) Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu; (2) Untuk menentukan apakah suatau tujuan telah tercapai; dan (3) Untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Disamping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

  1. F.     Analisis Data

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

  1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan            :      = Nilai rata-rata

Σ X   = Jumlah semua nilai siswa

Σ N   = Jumlah siswa

  1. Untuk ketuntasan belajar

Adadua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

  1. Untuk lembar observasi
  1. Lembar observasi pengelolaan cara belajar aktif model group close.

Untuk menghitung lembar observasi pengelolaan cara belajar aktif model group close digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana: P1 = pengamat 1 dan P2 = pengamat 2

  1. Lembar observasi aktivitas guru dan siswa

Untuk menghitung lembar observasi aktivitas guru dan siswa digunakan rumus sebagai berikut:

dengan

Dimana:           %         = Persentase pengamatan

= Rata-rata

= Jumlah rata-rata

P1         = Pengamat 1

P2         = Pengamat 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hubungan Metode Demonstrasi dengan Ketuntasan Belajar

Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%, sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65.

1.   Siklus I

a.    Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan metode demonstrasi, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

b.    Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 6 November 2008 di Kelas IV dengan jumlah siswa 41 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah Kepala Sekolah SDN ABC dan Wali Kelas IV. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2. Pengelolan Pembelajaran Pada Siklus I

No

Aspek yang diamati

Penilaian Rata-rata
P1 P2

I

Pengamatan KBM

  1. Pendahuluan
  1. Memotivasi siswa
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran

2

2

2

2

2

2

  1. Kegiatan Inti
  1. Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa
  2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
  3. Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok
  4. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kegiatan belajar mengajar
  5. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

  1. Penutup
  1. Membimbing siswa membuat rangkuman
  2. Memberikan evaluasi

3

3

3

3

3

3

II

Pengelolaan Waktu

2

2

2

III

Antusiasme Kelas

  1. Siswa Antusias
  2. Guru Antusias

2

3

2

3

2

3

Jumlah

32

32

32

Keterangan           :     Nilai                 : Kriteria

1         : Tidak Baik

2         : Kurang Baik

3         : Cukup Baik

4         : Baik

Berdasarkan tabel di atas aspek-aspek yang mendapatkan kriteria kurang baik adalah memotivasi siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, pengelolaan waktu, dan siswa antusias. Keempat aspek yang mendapat penilaian kurang baik di atas, merupakan suatu kelemahan yang terjadi pada siklus I. Dan akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi dan revisi yang akan dilakukan pada siklus II.

Hasil observasi berikutnya adalah aktivitas guru dan siswa seperti pada tabel berikut.

Tabel 4.3. Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus I

No

Aktivitas Guru yang diamati

Persentase

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Menyampaikan tujuan

Memotivasi siswa/merumuskan masalah

Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya

Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi

Menjelaskan materi yang sulit

Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep

Meminta siswa memikirkan untuk lebih memahami materi pelajaran

Memberikan umpan balik

Membimbing siswa merangkum pelajaran

5,0

8,3

8,3

6,7

13,3

21,7

10,0

18,3

8,3

No

Aktivitas Siswa yang diamati

Persentase

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru

Membaca buku siswa

Bekerja dengan sesama teman sebangku

Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru

Menyajikan hasil pembelajaran

Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide

Menulis yang relevan dengan KBM

Merangkum pembelajaran

Mengerjakan tes evaluasi

22,5

11,5

18,7

14,4

2,9

5,2

8,9

6,9

8,9

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominan pada siklus I adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep yaitu 21,7%. Aktivitas lain yang persentasenya cukup besar adalah memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dan menjelaskan materi yang sulit yaitu masing-masing sebesar 18,3% dan 13,3%. Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan adalah mengerjakan/memperhatikan penjelasan guru yaitu 22,5%. Aktivitas lain yang persentasenya cukup besar adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku, diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru, dan membaca buku yaitu masing-masing 18,7% 14,4 dan 11,5%.

Pada siklus I, secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode demonstrasi sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa.

Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I

No

Uraian

Hasil Siklus I

1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

70,49

27

65,85

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode demonstrasi diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70,49 dan ketuntasan belajar mencapai 65,85% atau ada 27 siswa  dari 41 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 65,85% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode demonstrasi.

c.    Refleksi

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:

1)      Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran

2)      Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu

3)      Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung

d.   Refisi

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.

1)      Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

2)      Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan

3)      Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

2.   Siklus II

a.    Tahap perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan metode demonstrasi dan lembar observasi guru dan siswa.

b.   Tahap kegiatan dan pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 13 November 2008 di Kelas IV dengan jumlah siswa 41 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah Kepala Sekolah SDN ABC dan Wali Kelas IV. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus II

No

Aspek yang diamati

Penilaian

Rata-rata

P1

P2

I

Pengamatan KBM

  1. Pendahuluan
  1. Memotivasi siswa
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran

3

3

3

4

3

3,5

  1. Kegiatan Inti
  1. Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa
  2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
  3. Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok
  4. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil peneyelidikan
  5. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep

3

4

4

4

3

4

4

4

4

3

3,5

4

4

4

3

  1. Penutup
  1. Membimbing siswa membuat rangkuman
  2. Memberikan evaluasi

3

4

4

4

3,5

4

II

Pengelolaan Waktu

3

3

2

III

Antusiasme Kelas

  1. Siswa Antusias
  2. Guru Antusias

4

4

3

4

3,5

4

Jumlah

41

43

42

Keterangan           :     Nilai                 : Kriteria

1      : Tidak Baik

2      : Kurang Baik

3      : Cukup Baik

4      : Baik

Dari tabel diatas, tampak aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus II) yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapkan metode demonstrasi mendapatkan penilaian yang cukup baik dari pengamat. Maksudnya dari seluruh penilaian tidak terdapat nilai kurang. Namum demikian penilaian tersebut belum merupakan hasil yang optimal, untuk itu ada beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian untuk penyempurnaan penerapan pembelajaran selanjutnya. Aspek-aspek tersebut adalah memotivasi siswa, membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.

Dengan penyempurnaan aspek-aspek di atas dalam penerapan metode demonstrasi diharapkan siswa dapat menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dan mengemukakan pendapatnya sehingga mereka akan lebih memahami tentang apa yang telah mereka lakukan.

Berikut disajikan hasil observasi aktivitas guru dan siswa:

Tabel 4.6. Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus II

No

Aktivitas Guru yang diamati

Persentase

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Menyampaikan tujuan

Memotivasi siswa/merumuskan masalah

Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya

Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi

Menjelaskan materi yang sulit

Membimbing dan mengamati siswa dalam menentukan konsep

Meminta siswa memikirkan untuk lebih memahami materi pelajaran

Memberikan umpan balik

Membimbing siswa merangkum pelajaran

6,7

6,7

6,7

11,7

11,7

25,0

8,2

16,6

6,7

No

Aktivitas Siswa yang diamati

Persentase

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru

Membaca buku siswa

Bekerja dengan sesama teman sebangku

Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru

Menyajikanhasil pembelajaran

Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide

Menulis yang relevan dengan KBM

Merangkum pembelajaran

Mengerjakan tes evaluasi/latihan

17,9

12,1

21,0

13,8

4,6

5,4

7,7

6,7

10,8

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominan pada siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep yaitu 25%. Jika dibandingkan dengan siklus I, aktivitas ini mengalami peningkatan. Aktivitas guru yang mengalami penurunan adalah memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab (16,6%), menjelaskan materi yang sulit (11,7).  Meminta siwa mendiskusikan dan menyajikan hasil kegiatan (8,2%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (6,7%).

Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus II adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku yaitu (21%). Jika dibandingkan dengan siklus I, aktivitas ini mengalami peningkatan. Aktivitas siswa yang mengalami penurunan adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (17,9%). Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru (13,8%), menulis yang relevan dengan KBM (7,7%) dan merangkum pembelajaran (6,7%). Adapun aktivitas siswa yang mengalami peningkatan adalah membaca buku (12,1%), menyajikan hasil pembelajaran (4,6%), menanggapi/mengajukan pertanyaan/ide (5,4%), dan mengerjakan tes evaluasi (10,8%).

Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa terlihat pada tabel berikut.

Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II

No

Uraian

Hasil Siklus II

1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

73,90

32

78,00

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 73,90 dan ketuntasan belajar mencapai 78,00% atau ada 32 siswa dari 41 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode demonstrasi.

c.    Refleksi

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:

1)      Memotivasi siswa

2)      Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep

3)      Pengelolaan waktu

d.   Refisi Rancangan

Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain:

1)      Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.

2)      Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.

3)      Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.

4)      Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

5)      Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.

3.   Siklus III

a.    Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan metode demonstrasi dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

b.    Tahap kegiatan dan pengamatan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 20 November 2008 di Kelas IV dengan jumlah siswa 41 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah Kepala Sekolah SDN ABC dan Wali Kelas IV. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus III

No

Aspek yang diamati

Penilaian

Rata-rata

P1

P2

I

Pengamatan KBM

  1. Pendahuluan
  1. Memotivasi siswa
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran

3

4

3

4

3

4

  1. Kegiatan Inti
  1. Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa
  2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
  3. Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok
  4. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil peneyelidikan
  5. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep

4

4

4

4

3

4

4

4

3

3

4

4

4

3,5

3

  1. Penutup
    1. Membimbing siswa membuat rangkuman
    2. Memberikan evaluasi

4

4

4

4

4

4

II

Pengelolaan Waktu

3

3

3

III

Antusiasme Kelas

  1. Siswa Antusias
  2. Guru Antusias

4

4

4

4

4

4

Jumlah

45

44

44,5

Keterangan  :     Nilai                 : Kriteria

1      : Tidak Baik

2      : Kurang Baik

3      : Cukup Baik

4      : Baik

Dari tabel di atas, dapat dilihat aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapkan metode demonstrasi mendapatkan penilaian cukup baik dari pengamat adalah memotivasi siswa, membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.

Penyempurnaan aspek-aspek diatas dalam menerapkan metode demonstrasi diharapkan dapat berhasil semaksimal mungkin.

Tabel 4.9. Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus III

No

Aktivitas Guru yang diamati

Persentase

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Menyampaikan tujuan

Memotivasi siswa/merumuskan masalah

Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya

Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi

Menjelaskan materi yang sulit

Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep

Meminta siswa menyajikan dan  mendiskusikan hasil kegiatan

Memberikan umpan balik

Membimbing siswa merangkum pelajaran

6,7

6,7

10,7

13,3

10,0

22,6

10,0

11,7

10,0

No

Aktivitas Siswa yang diamati

Persentase

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru

Membaca buku siswa

Bekerja dengan sesama teman sebangku

Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru

Menyajikanhasil pembelajaran

Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide

Menulis yang relevan dengan KBM

Merangkum pembelajaran

Mengerjakan tes evaluasi/latihan

20,8

13,1

22,1

15,0

2,9

4,2

6,1

7,3

8,5

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominan pada siklus III adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep yaitu 22,6%, sedangkan aktivitas menjelaskan materi yang sulit dan memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab menurun masing-masing sebesar (10%) dan (11,7%). Aktivitas lain yang mengalami peningkatan adalah mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya (10%), menyampaikan materi/strategi /langkah-langkah (13,3%), meminta siswa memikirkan untuk lebih memahami materi pelajaran (10%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (10%). Adapun aktivitas yang tidak mengalami perubaan adalah menyampaikan tujuan (6,7%) dan memotivasi siswa (6,7%).

Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus III adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku yaitu (22,1%) dan mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (20,8%), aktivitas yang mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa (13,1%) dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru (15,0%). Sedangkah aktivitas yang lainnya mengalami penurunan.

Berikutnya adalah rekapitulasai hasil tes formatif siswa seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 4.10. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III

No

Uraian

Hasil Siklus III

1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

77,80

36

87,80

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 77,80 dan dari 41 siswa yang telah tuntas sebanyak 35 siswa dan 5 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 87,80% (termasuk kategori tuntas).  Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode demonstrasi sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.

c.    Refleksi

Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode demonstrasi. Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:

1)      Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.

2)      Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.

3)      Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

4)      Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan.

d.   Revisi Pelaksanaan

Pada siklus III guru telah menerapkan metode demonstrasi dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

B.   Pembahasan

1.   Ketuntasan Hasil belajar Siswa

Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 65,85%, 78,00%, dan 87,80%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

2.   Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan metode demonstrasi dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

3.   Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada pada pokok bahasan sholat dengan metode demonstrasi yang paling dominan adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.

Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metode demonstrasi dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

 

 

 

 

 

 

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Metode demonstrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (65,85%), siklus II (78,00%), siklus III (87,80%).
  2. Metode demonstrasi dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide dan pertanyaan.
  3. Penerapan metode demonstrasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

B.   Saran

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

  1. Untuk melaksanakan metode demonstrasi memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
  2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana,  dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
  3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SDN …………………. tahun pelajaran 2009/2010.
  4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar.Bandung: Sinar Baru Algesindon.

Arikunto,. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi.Jakarta: Rineksa Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta: Rineksa Cipta.

Azhar, Lalu Muhammad. 1993. Proses Belajar Mengajar Pendidikan.Jakarta: Usaha Nasional

Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila.Semarang: Aneka Ilmu.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineksa Cipta.

Djamarah. Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar.Jakarta: Rineksa Cipta.

Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1.Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar.Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar.Bandung: Remaja Rosdakarya.

Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta. Rineksa Cipta.

Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes.Surabaya: Universitas Press.

Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar.Surabaya. University Press. Universitas NegeriSurabaya.

Ramayulis, 2004. Metodologi Pendidikan Agama Islam.Jakarta: Kalam Mulia

Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Bina Aksara.

Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta: Bina Aksara.

Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran.Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.

Sukidin, dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas.Surabaya: Insan Cendekia.

Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional.Bandung: Jemmars.

Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah.Jakarta: PT. Rineksa Cipta.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru.Bandung: Remaja Rosdakarya.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Lampiran 1

LEMBAR PENGAMATAN PENGELOLAAN METODE DEMONSTRASI

Nama Sekolah             : ……………….         Nama Guru     : ………………………

Mata Pelajaran            : ……………….         Hari/tanggal    : ………………………

Sub Konsep     : ……………….                     Pukul               : ………………………

Petunjuk

Berikan penilan anda dengan memberikan tanda cek (√) pada kolom yang sesuai.

No

Aspek yang diamati

Penilaian

Ya

Tidak

1

2

3

4

I

Pelaksanaan

  1. Pendahuluan
  2. Kegiatan Inti
  3. Penutup
  1. Memotivasi Siswa
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
  1. Mendiskusikan langkah kegiatan bersama siswa.
  2. Membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
  3. Membimbing siswa untuk menanggapi kegiatan belajar mengajar
  4. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengungkapkandengangayabahasa mereka.
  5. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.
  1. Membimbing siswa membuat rangkuman.
  2. Memberikan evaluasi.

II

Pengelolaan waktu

III

Antusiasme kelas

  1. Siswa antusias
  2. Guru Antusias.

Mempersiapkan Suatu Demonstrasi

tunjang oleh tempat, waidik untuk itu perlu persiapan yang matang.k yang ingin berusaha mengama

Keterangan                                                                              Jakarta, ……….2009

  1. Kurang baik                                                                           Pengamat
  2. Cukup baik
  3. Baik
  4. Sangat baik

(…………………………..)

Lampiran 2

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA DAN GURU DALAM KBM

Nama Sekolah                         :                                                               Tanggal                   :

Kelas/semester                         :                                                               Waktu                      :

Bahan Kajian                           :                                                               Nama Guru             :

Petunjuk Pengisian

Amatilah aktivitas gurudan siswa dalam kelompok sampel selama kegiatan belajar berlangsung kemudian isilah lembar observasi dengan prosedur sebagai berikut:

  1. Pengamat dalam melakukan pengamatan duduk di tempat yang memungkinkan dapat melihat semua aktivitas siswa yang diamati.
  2. Setiap 2 menit pengamat melakukan pengamatan aktivitas guru dan siswa yang dominan, kemudian 1 menit pengamat menuliskan kode kategori pengamatan.
  3. Pengamatan ditujukan untuk kedua kelompok yang melakukan secara bergantian setiap periode waktu tiga menit.
  4. Kode-kode kategori dituliskan secara berurutan sesuai dengan kejadian pada baris dan kolom yang tersedia.
  5. Pengamatan dilakukan sejak guru memulai pelajaran dan dilakukan secara serempak.

Aktivitas guru

Aktivitas siswa

  1. Menyampaikan tujuan
  2. Memotivasi siswa/merumusan masalah.
  3. Mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya.
  4. Menyampaikan langkah-langkah/strategi
  5. Menjelaskan materi yang sulit
  6. Memebimbing menemukan konsep.
  7. Meminta siswa memikirkan untuk lebih memahami materi pelajaran.
  8. Memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab.
  9. Membimbing siswa merangkum pelajaran.
  10. Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru.
  11. Membaca buku.
  12. Bekerja dengan sesama teman sebangku
  13. Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru.
  14. Menyajikan hasil pembelajaran
  15. Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide.
  16. Menulis yang relevan dengan KBM.
  17. Merangkum pembelajaran.
  18. Mengerjakan tes evaluasi.
Nama Guru:
Nama Murid: Nama Murid:
Nama Murid: Nama Murid:
Nama Murid: Nama Murid:
Nama Murid: Nama Murid:

Jakarta,                        2009

Pengamat

(…………………….)

Lampiran 3

HASIL TES FORMATIF SIKLUS I

No.

Nama

Nilai

Keterangan

T

TT

1

Nama Siswa

80

2

Nama Siswa

70

3

Nama Siswa

70

4

Nama Siswa

60

5

Nama Siswa

80

6

Nama Siswa

60

7

Nama Siswa

80

8

Nama Siswa

80

9

Nama Siswa

80

10

Nama Siswa

60

11

Nama Siswa

60

12

Nama Siswa

70

13

Nama Siswa

70

14

Nama Siswa

70

15

Nama Siswa

80

16

Nama Siswa

50

17

Nama Siswa

90

18

Nama Siswa

70

19

Nama Siswa

60

20

Nama Siswa

60

21

Nama Siswa

70

22

Nama Siswa

60

23

Nama Siswa

80

24

Nama Siswa

60

25

Nama Siswa

80

26

Nama Siswa

80

27

Nama Siswa

80

28

Nama Siswa

60

29

Nama Siswa

60

30

Nama Siswa

70

31

Nama Siswa

80

32

Nama Siswa

70

33

Nama Siswa

80

34

Nama Siswa

80

35

Nama Siswa

90

36

Nama Siswa

70

37

Nama Siswa

60

38

Nama Siswa

60

39

Nama Siswa

60

40

Nama Siswa

70

41

Nama Siswa

70

Jumlah

2890

27

14

Keterangan:

T                                                          : Tuntas

TT                                                        : Tidak tuntas

Jumlah Siswa yang tuntas                   : 27

Jumlah siswa yang tidak tuntas          : 14

Skor Tercapai                                      : 2890

Rata-rata Skor Tercapai                      : 70,49

Prosentase Ketuntasan                        : 65,85%

Lampiran 4

HASIL TES FORMATIF SIKLUS II

No.

Nama

Nilai

Keterangan

T

TT

1

Nama Siswa

90

2

Nama Siswa

70

3

Nama Siswa

80

4

Nama Siswa

60

5

Nama Siswa

80

6

Nama Siswa

70

7

Nama Siswa

80

8

Nama Siswa

80

9

Nama Siswa

80

10

Nama Siswa

70

11

Nama Siswa

60

12

Nama Siswa

80

13

Nama Siswa

70

14

Nama Siswa

70

15

Nama Siswa

80

16

Nama Siswa

60

17

Nama Siswa

90

18

Nama Siswa

70

19

Nama Siswa

60

20

Nama Siswa

60

21

Nama Siswa

80

22

Nama Siswa

70

23

Nama Siswa

80

24

Nama Siswa

60

25

Nama Siswa

80

26

Nama Siswa

80

27

Nama Siswa

80

28

Nama Siswa

70

29

Nama Siswa

60

30

Nama Siswa

70

31

Nama Siswa

90

32

Nama Siswa

80

33

Nama Siswa

80

34

Nama Siswa

80

35

Nama Siswa

90

36

Nama Siswa

70

37

Nama Siswa

60

38

Nama Siswa

70

39

Nama Siswa

60

40

Nama Siswa

80

41

Nama Siswa

80

Jumlah

3030

32

9

Keterangan:

T                                                          : Tuntas

TT                                                        : Tidak tuntas

Jumlah Siswa yang tuntas                   : 32

Jumlah siswa yang tidak tuntas          : 9

Skor Tercapai                                      : 3030

Rata-rata Skor Tercapai                      : 73,90

Prosentase Ketuntasan                        : 78,00

Lampiran 5

HASIL TES FORMATIF SIKLUS III

No.

Nama

Nilai

Keterangan

T

TT

1

Nama Siswa

90

2

Nama Siswa

90

3

Nama Siswa

80

4

Nama Siswa

70

5

Nama Siswa

80

6

Nama Siswa

70

7

Nama Siswa

80

8

Nama Siswa

80

9

Nama Siswa

80

10

Nama Siswa

70

11

Nama Siswa

60

12

Nama Siswa

80

13

Nama Siswa

70

14

Nama Siswa

90

15

Nama Siswa

80

16

Nama Siswa

60

17

Nama Siswa

90

18

Nama Siswa

80

19

Nama Siswa

60

20

Nama Siswa

80

21

Nama Siswa

90

22

Nama Siswa

70

23

Nama Siswa

80

24

Nama Siswa

80

25

Nama Siswa

80

26

Nama Siswa

90

27

Nama Siswa

80

28

Nama Siswa

70

29

Nama Siswa

60

30

Nama Siswa

70

31

Nama Siswa

90

32

Nama Siswa

90

33

Nama Siswa

80

34

Nama Siswa

80

35

Nama Siswa

90

36

Nama Siswa

70

37

Nama Siswa

60

38

Nama Siswa

90

39

Nama Siswa

70

40

Nama Siswa

80

41

Nama Siswa

80

Jumlah

3190

36

5

Keterangan:

T                                                          : Tuntas

TT                                                        : Tidak tuntas

Jumlah Siswa yang tuntas                   : 36

Jumlah siswa yang tidak tuntas          : 5

Skor Tercapai                                      : 3190

Rata-rata Skor Tercapai                      : 77,80

Prosentase Ketuntasan                        : 87,80

Lampiran 6

Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran I

No.

Nama (Guru-Siswa)

P

RP I (90 menit)

Jumlah

Nama Guru

1

2

3

4

5

6

7

8

9

P1

2

3

3

2

6

5

3

4

2

30

P2

2

3

2

1

5

7

3

5

2

30

Rata-rata

X

2

3

2,5

1,5

5,5

6

3

4,5

2

30

Prosentase

%

6,67

10

8,3

5

18,3

20

10

15

6,67

100

1

Nama Siswa

P1

4

4

6

4

1

2

3

2

4

30

P2

8

2

5

5

0

2

4

2

2

30

2

Nama Siswa

P1

6

4

6

4

1

2

2

2

3

30

P2

8

2

7

5

0

1

3

2

2

30

3

Nama Siswa

P1

5

3

7

5

0

2

2

2

4

30

P2

10

4

4

4

0

1

3

2

2

30

4

Nama Siswa

P1

4

4

7

5

1

2

2

3

2

30

P2

10

4

4

3

0

1

4

2

2

30

5

Nama Siswa

P1

6

2

8

4

2

0

2

2

4

30

P2

8

3

4

5

2

2

2

2

2

30

6

Nama Siswa

P1

6

4

6

4

0

2

2

2

4

30

P2

8

4

3

5

0

2

4

2

2

30

7

Nama Siswa

P1

5

4

6

3

2

3

2

2

3

30

P2

5

4

4

5

3

2

3

2

2

30

8

Nama Siswa

P1

6

3

8

4

2

0

2

2

3

30

P2

9

4

5

4

0

1

3

2

2

30

Jumlah

P1

42

28

54

33

9

13

17

17

27

240

P2

66

27

36

36

5

12

26

16

16

240

Rata-rata

X

54

27,5

45

34,5

7

12,5

21,5

16,5

21,5

240

Prosentase rata-rata

%

22,5

11,5

18,7

14,4

2,9

5,2

8,9

6,9

8,9

100

Keterangan:

Rata-rata (x)

Prosentase rata-rata (%)

Lampiran 7

Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran II

No.

Nama (Guru-Siswa)

P

RP I (90 menit)

Jumlah

Nama Guru

1

2

3

4

5

6

7

8

9

P1

2

2

2

4

4

7

2

5

2

30

P2

2

2

2

3

3

8

3

5

2

30

Rata-rata

X

2

2

2

3,5

3,5

7,5

2,5

5

2

30

Prosentase

%

6,7

6,7

6,7

11,7

11,7

25

8,2

16,6

6,7

100

1

Nama Siswa

P1

4

4

6

4

2

2

2

2

4

30

P2

6

3

5

5

1

3

2

2

3

30

2

Nama Siswa

P1

4

4

7

5

1

2

2

2

3

30

P2

7

3

5

4

2

2

2

2

3

30

3

Nama Siswa

P1

4

4

6

4

2

2

2

2

4

30

P2

5

4

7

4

1

1

3

2

3

30

4

Nama Siswa

P1

6

6

6

2

2

2

2

2

2

30

P2

5

4

7

4

1

1

3

2

3

30

5

Nama Siswa

P1

5

4

6

4

2

2

2

2

3

30

P2

8

2

6

4

1

2

2

2

3

30

6

Nama Siswa

P1

5

2

7

6

0

1

3

2

1

30

P2

6

3

7

6

0

1

2

2

3

30

7

Nama Siswa

P1

6

4

6

2

2

2

2

2

4

30

P2

4

3

9

4

1

0

4

2

3

30

8

Nama Siswa

P1

4

4

6

4

2

2

2

2

4

30

P2

7

4

5

4

2

1

2

2

3

30

Jumlah

P1

38

32

50

31

13

15

17

16

28

240

P2

48

26

51

35

9

11

20

16

24

240

Rata-rata

X

43

29

50,5

33

11

13

18,5

16

26

240

Prosentase rata-rata

%

17,9

12,1

21

13,8

4,6

5,4

7,7

6,7

10,8

100

Keterangan:

Rata-rata (x)

Prosentase rata-rata (%)

Lampiran 8

Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran III

No.

Nama (Guru-Siswa)

P

RP I (90 menit)

Jumlah

Nama Guru

1

2

3

4

5

6

7

8

9

P1

2

2

4

4

2

7

2

4

3

30

P2

2

2

2

4

4

6

4

3

3

30

Rata-rata

X

2

2

3

4

3

6,5

3

3,5

3

30

Prosentase

%

6,7

6,7

10

13,3

10

22,6

10

11,7

10

100

1

Nama Siswa

P1

5

2

7

5

2

2

2

2

3

30

P2

6

3

6

5

1

1

3

2

3

30

2

Nama Siswa

P1

6

5

6

4

2

1

2

2

2

30

P2

6

5

4

7

1

0

2

3

2

30

3

Nama Siswa

P1

5

4

10

2

0

3

1

2

3

30

P2

5

3

6

6

1

3

1

3

2

30

4

Nama Siswa

P1

6

4

6

5

1

2

1

2

2

30

P2

8

5

4

6

0

2

1

2

2

30

5

Nama Siswa

P1

7

4

7

4

1

0

2

2

3

30

P2

9

5

7

4

0

1

0

2

2

30

6

Nama Siswa

P1

6

4

8

4

1

1

2

2

2

30

P2

8

3

7

4

0

0

3

2

3

30

7

Nama Siswa

P1

4

5

7

3

2

2

2

2

3

30

P2

7

3

6

6

0

0

3

3

2

30

8

Nama Siswa

P1

5

5

7

2

1

2

2

2

4

30

P2

7

4

8

4

1

0

2

2

2

30

Jumlah

P1

44

33

58

29

10

13

14

16

23

240

P2

56

30

48

43

4

7

15

19

18

240

Rata-rata

X

50

31,5

53

36

7

10

14,5

17,5

20,5

240

Prosentase rata-rata

%

20,8

13,1

22,1

15

2,9

4,2

6,1

7,3

8,5

100

Keterangan:

Rata-rata (x)

Prosentase rata-rata (%)

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PAI DENGAN DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI PADA SISWA

KELAS IV SDN ……………………………………

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

 

 

 

 

KARYA TULIS ILMIAH

This entry was posted in PENELITIAN TINDAKAN KELAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply